Jumat 02 Feb 2018 14:20 WIB

Dua Ulama Dianiaya, Fahira Minta Polisi Serius Ungkap Kasus

Polisi harus melihat fenomena ini sebagai hal yang serius dan memetakan persoalannya

Rep: Amri Amrullah/ Red: Agus Yulianto
Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris.
Foto: Dok Humas DPD RI
Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Ketua Komite III DPD RI yang membidangi keagamaan Fahira Idris meminta, polisi mengusut kedua kasus kriminal penganiayaan dua ulama yang terjadi di Jawa Barat. Fahira meminta, masyarakat dan umat Islam waspada dan kepada aparat agar serius mengungkap kasus ini.

Dalam waktu berdekatan, dua peristiwa tidak biasa yang menimpa ulama dan ustadz, terjadi di Provinsi Jawa Barat. Bahkan, peristiwa terakhir meninggalkan duka mendalam karena Ustaz Prawoto yang juga Komandan Brigade PP Persis meninggal dunia Kamis (1/1) pagi di Cigondewah Kidul Kecamatan Bandung Kulon, Bandung.

Sebelumnya (27/1), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hiadayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung KH Emon Umar Basyri juga harus mendapat perawatan. Ini karena yang bersangkutan dianiayai pria tak dikenal saat berzikir seusai melaksanakan shalat Subuh berjamaah.

Fahira pun menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Ustaz Prawoto dan pemukulan KH Emron Umar Basyri yang kini dirawat di Rumah Sakit. Fahira mengatakan, walaupun kedua orang penganiaya ini telah ditangkap dan diduga sakit jiwa atau gila.

 

photo
Adik ipar almarhum Ustaz Prawoto, Haji Didin tengah memperlihatkan foto-foto almarhum di kediamannya di Cigondewah Kidul, Kota Bandung, Jumat (2/2).

Ia tetap meminta proses hukum harus tetap berjalan terlebih sudah jatuh korban nyawa. Memang jika melihat motif yang hampir sama bahkan pelakunya dua-duanya diduga sakit jiwa atau gila, kita patut waspada, namun tetap harus tenang dan jernih melihat fenomena ini.

"Saya berharap polisi melihat fenomena ini sebagai hal yang serius dan segera memetakan persoalan serta mencari solusinya agar para ulama dan ustaz bisa beraktivitas dengan tenang, ujar Fahira, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (2/2).

Fahira meminta, aparat keamanan menjaga kondusifitas Jawa Barat menjelang Pilkada serentak pada 27 Juni 2018 mendatang. Perisitiwa-peristiwa penganiayaan yang menimpa ulama dan ustaz harus dipandang luas dan dari berbagai sudut pandang. Sehingga tidak mudah menyimpulkan kejadian-kejadian ini hanya peristiwa kriminal biasa.

Peristiwa sekecil apapun menjelang pilkada serentak ini. Apalagi yang berpotensi memancing kemarahan warga, patut dicurigai dan harus diusut tuntas. "Saya berharap polisi bergerak cepat mengusut tuntas kedua peristiwa ini," pungkas Fahira.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement