Selasa 23 Jan 2018 18:30 WIB

Maladewa Negeri Wisata

Hampir 100 persen warga negeri indah ini beragama Islam.

Maladewa
Foto: SilkAir
Maladewa

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Menyebut Maladewa orang langsung terbayang sebuah destinasi wisata yang eksotik, eksklusif dan mahal. Puluhan pulau karang dan panorama pantai yang elok memang menjadi aset utama negeri mungil ini un tuk menarik para wisatawan dari seantero penjuru dunia.

Republik Maladewa adalah negara kepulauan di Samudra Hindia. Ia berada sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka. Maladewa merupakan negara dengan populasi dan luas wila yah terkecil di kawasan Asia. Tinggi rata-rata permukaan tanah di negeri ini adalah 1,5 meter di atas permukaan laut.

Hal ini menjadikannya sebagai negara dengan permukaan tanah terendah di dunia. Puncak tertinggi Maladewa hanya 2,3 meter di atas permukaan laut sehingga menjadikannya sebagai negara yang memiliki puncak tertinggi paling rendah di dunia.

Secara geografis, Maladewa memang sangat unik. Negara ini memiliki sekitar 1.192 pulau karang yang terbentang luas dari utara ke selatan sepanjang 2.000 km. Sekitar 200 pulaunya berpenghuni. Ratusan pulau ter sebut menjadi pulau wisata eksklusif. Luas daratan negara ini kurang dari 0,5 persen luas keseluruhannya, yaitu 90.000 km2. Tidak ada pulau yang besar, tidak ada bukit atau gunung.

 

Ibu kota negaranya bernama Male dengan luas kurang dari dua km2. Ban dara Internasional Ma le terletak di pulau yang bersebelahan de ngan ibu kota. Hanya perlu waktu 10 menit perjalanan boat dari Male. Male berpenduduk 70 ribu orang sedangkan penduduk Maladewa sekitar 400 ribu. Hanya empat pu lau yang tercatat memiliki po pulasi di atas 5.000 orang se dangkan pulau-pulau berpeng- huni lainnya rata-rata dihuni 800 orang saja.

Banyak aktivitas justru terjadi di tengah laut, apakah itu pariwisata, perikanan, perdagangan, ataupun yang lainnya. Para wisatawan justru tak perlu singgah ke Male karena Mala dewa memiliki pu lau-pulau khusus untuk berli bur. Dari bandara, wisatawan langsung menuju ke pulau tujuannya menggunakan kapal atau dengan pesawat air.

Selain alamnya yang memu kau, hal lain yang patut dicatat dari negeri berpenduduk tak lebih dari 400 ribu orang ini adalah latar belakang sejarah Islamnya yang kuat.

Sejarah mencatat, sebelum Islam hadir di sana, masyarakat Maladewa sudah mengenal Buddha. Hingga abad kesembilan, se bagian besar penduduk Mala dewa merupakan penganut ajar an Buddha. Pengaruh Islam masuk secara bertahap dan perlahan- lahan saat negeri ini menjadi tujuan dagang para pelaut Arab dan India. Interaksi para pedagang dan masyarakat Mala dewa menjadi awal berpendar nya cahaya Islam di sana.

Laman www.maldivesculture.com menyebut, luasnya ja ringan perda gang an yang di bangun para saudagar dari India dan Arab menarik masya rakat Maladewa untuk ikut dalam lingkaran mereka. Dalam hal ini, para saudagar itu mena warkan kemakmur an dari hasil dagangnya dan kesempatan memperluas jaringan ke luar Maladewa.

Peluang bagi berkembang nya Islam kian terbuka ketika pada 1153 kerajaan mengeluarkan sebuah dekrit yang mengharuskan masyarakat Maladewa meninggalkan agama Buddha dan menjadi Muslim. Tak pelak, sejak itu banyak biara yang beralih fungsi menjadi masjid. Salah satunya sebuah biara di Isdhoo.

Kepulauan-kepulauan yang jauh dari pusat pemerintahan pun diwajibkan untuk melaku kan pembaruan ini dan membangun sebuah masjid. Pada masa itu, Pemerintahan Mala dewa terdiri atas 10 menteri, termasuk kepala pemerintahan, bendahara kerajaan, jaksa, dan hakim ketua.

Raja yang berkuasa saat itu, Raja Thereupon, kemudian mengubah gelar dan namanya dalam bahasa Arab, yakni Sultan Muhammad al-Adil. Kesultanan ini menjadi awal dari enam dinasti Islam yang dipimpin oleh 84 sultan yang berakhir pada 1932. Sejak 1932 hingga saat ini, pemimpin Mala dewa dipilih secara langsung oleh rak yat.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement