Senin 15 Jan 2018 12:16 WIB

Solusi untuk Mengatasi Tingginya Buta Huruf Alquran

Rep: Fuji E Permana/ Red: Esthi Maharani
Alquran
Foto: Republika/Yasin Habibi
Alquran

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Angka buta huruf Alquran di Indonesia cukup tinggi. Pada tahun 2013 Badan Pusat Statistik (BPS) menginformasikan sekitar 54 persen dari total populasi umat Islam di Indonesia buta huruf Alquran. Untuk mengatasi masalah ini pendidikan keluarga harus dikuatkan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (PP IKADI), Prof KH Ahmad Satori Ismail mengatakan, umat Islam di kota-kota dan kampung-kampung sudah disibukan dengan banyak hiburan. Hiburan melalui televisi, smartphone dan lain sebagainya. Sehingga banyak yang tidak sempat belajar membaca Alquran dengan benar.

"Godaan hiburan terlalu banyak, kesempatan untuk belajar kurang, di sisi lain di daerah ada yang metode (belajarnya) masih kuno jadi kurang mempercepat orang-orang belajar Alquran," kata Prof Satori kepada Republika, Senin (15/1).

(Baca: Buta Aksara Alquran" href="http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/01/12/p2futy335-masjidmasjid-disarankan-ikut-berantas-buta-aksara-alquran" target="_blank" rel="noopener">Masjid-Masjid Disarankan Ikut Berantas Buta Aksara Alquran)

 

Ia menegaskan, solusi untuk mengurangi angka buta huruf Alquran, pertama, orang tua harus serius mendidik anak-anaknya. Kalau anak-anak tidak dipaksa untuk belajar membaca Alquran, maka anak-anak akan semakin santai dan terlena dengan hiburan.

"Ini pendidikan dari keluarga harus dikuatkan," ujarnya.

Ia melanjutkan, solusi kedua, guru-guru di daerah dan kota harus bisa membuat mushola dan masjid sebagai pusat pembelajaran Alquran. Kalau belajarnya digratiskan, akan lebih baik lagi. Solusi ketiga, perlu mencari metode belajar Alquran cepat dan menyenangkan. Sehingga anak-anak mau belajar membaca Alquran.

Menurutnya, akan lebih bagus kalau ada kerjasama pemerintah dan stasiun televisi. Agar stasiun televisi tidak menayangkan tontonan yang disukai anak-anak di waktu magrib dan isa. Supaya anak-anak bisa lebih mudah diarahkan ke masjid untuk sholat berjamaah dan belajar membaca Alquran.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement