Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Arsitektur Masjid Hamidiyah Terinspirasi Surah al-Baqarah

Kamis 04 Jan 2018 19:00 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Bagian dalam Masjid Hamidiyah di Turki.

Bagian dalam Masjid Hamidiyah di Turki.

Foto: Youtube.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Pada faktanya, usia Masjid Hamidiyah cukup tua. Masjid ini dibangun pada 1910, kata imam Masjid Hamidiyah, Safa Akengi, kepada Yenisafak.com, Juli 2017. Dia juga menjelaskan, luas kompleks masjid ini mencapai 115 meter persegi. Seratus tujuh tahun silam, lokasi masjid ini, yaitu kawasan Yenejeh, Kirehir, masih merupakan kota kecil. Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan munculnya kebutuhan akan masjid sebagai pusat ibadah dan kegiatan Islami.

Saya diceritakan. Waktu itu, masjid sempat dibangun di sini juga tetapi terbilang kecil. Sehingga, tidak cukup menampung kebanyakan penduduk Yenejeh. Apalagi, ketika hari-hari ramai, semisal liburan atau hari besar keagamaan, sambung dia.

Karena itu, berpuluh tahun sejak pendiriannya pertama kali, Masjid Hamidiyah terus mengalami perbaikan dan perluasan. Renovasi yang paling signifikan berlangsung pada 2015 silam. Sebab, hampir keseluruhan bangunan asli dibongkar. Sejak saat itulah ide naturalisme mengemuka untuk menghiasi interior masjid.

Inspirasinya datang dari Alquran surah al-Baqarah ayat 22, yang terjemahannya, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu.

Intinya, lanjut sang imam, Allah secara tidak langsung menyuruh manusia beriman agar merenungi keindahan langit dan bumi serta bagaimana keduanya menjadi tempat manusia berzikir dan mencari rezeki. Pihak Masjid Hamidiyah tidak ingin sekadar menampilkan kaligrafi ayat tersebut sebagai pengingat kepada para jamaah. Sebab, mengapa tidak merasakan nuansa keindahan alam tepat ketika Anda shalat?

Safa Akengi menceritakan orang-orang di balik gagasan naturalisme itu. Mereka antara lain Ismat Yabigi (kepala pengelola Masjid Hamidiyah) dan sejumlah donatur. Setelah rancangan masjid ini disepakati, Ismat mendatangkan seorang pelukis asal Azerbaijan. Ia terkenal ahli dalam membuat mural dan bahkan mengonsep mebel serta permadani untuk interior masjid ini. Hasilnya sebagaimana yang bisa pengunjung nikmati sekarang.

Saat saya pertama kali bertugas di sini, demikianlah saya mendapat informasi. Bahwa pembangunan dan desain Masjid Hamidiyah memang diilhami surat al-Baqarah itu, ujarnya.

Namun, bagi Safa, kesan Masjid Hamidiyah bukan sekadar padang rumput nan luas. Interior masjid ini seperti menimbulkan nuansa bahwa seakan-akan kita shalat di dalam Taman Firdaus, akunya.

Penampilan luar masjid ini tidak kalah indahnya. Dinding bagian luar menampilkan kaligrafi lafazh Allah dalam ukuran besar. Masing-masing huruf berada sesuai dengan birai-birai jendela.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA