Sabtu 16 Dec 2017 08:43 WIB

Hakikat Takwa

Jamaah bertawaf di sekeliling Ka'bah, Senin (28/8)
Foto: Khalil Hamra/AP
Jamaah bertawaf di sekeliling Ka'bah, Senin (28/8)

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Makmun Nawawi

Seorang bapak paruh baya pernah mengutarakan keinginannya untuk berangkat haji. Dia juga punya bekal untuk menunaikan rukun Islam yang kelima itu, dengan menjual aset tanahnya. Namun, begitu dana sudah dikantongi dari hasil penjualan tanahnya, dia terpincut untuk membeli mobil.

Katanya untuk tambahan usaha juga. Sekian bulan usaha dijalani, ternyata bukan tambahan pemasukan yang didapat, malah mobilnya itu mengalami kecelakaan, menabrak orang, sehingga banyak dana pun keluar untuk menuntaskan urusannya, dan memaksa dirinya untuk me-leasing-kan mobil itu.

Rupanya usahanya lesu sehingga untuk membayar cicilan mobilnya tersendat-sendat. Akhirnya mobil itu pun terpaksa dijual, dengan menyisakan angsuran yang lumayan masih besar. Setelah dipotong sisa angsuran, memang ada lebihnya. Namun, lebihnya itu untuk membayar satu kursi saja tidak cukup. Akhirnya keinginannya untuk berangkat haji pun kandas.

Di sisi lain, ada seorang anak yang ingin memberangkatkan ibunya naik haji. Namun, sang ibu menolak kalau hanya dia yang berangkat, dia ingin anak dan menantunya juga berangkat. Jadi, pergi haji bersama-sama, bertiga. Sang anak manut, dan pelan-pelan termotivasi untuk berangkat menunaikan ibadah haji.

Dan untuk menutupi tuntutan tiga kursi haji itu, ia pun mencari pinjaman. Rupanya tekad dan niat yang baik membuahkan hasil yang manis, di mana usaha yang dijalaninya mengalami kemajuan yang signifikan sehingga pinjaman itu pun bisa dibayar hanya dalam waktu tiga bulan.

Itulah contoh dari tingkat himmah (hasrat awal, atau bisa juga disebut cita-cita) seseorang. Himmah inilah yang menggerakkan amal seseorang, yang bermuara pada hati; jika kehendak dan hasrat lemah, maka itu lantaran kehidupan hati yang lemah. Sebaliknya, hati yang bergelora menunjukkan bahwa hasratnya tinggi, kehendak dan cita-citanya sangat kuat.

Ibnul Qayyim berujar: “Seorang hamba yang mampu mengarungi jalan menuju Allah adalah karena tekad hati dan hasratnya, bukan karena tubuhnya. Karena hakikat takwa adalah takwanya hati, bukan anggota tubuh. ‘Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati’ (al-Hajj: 32).”

Pentingnya himmah ini tentu bukan hanya terhadap ibadah haji—seperti yang sudah diingatkan Nabi: “Barang siapa yang ingin pergi haji, maka hendaklah ia bersegera karena kadang datang penyakit, kadang hewan tunggangan hilang, atau kadang ada keperluan lain (mendesak)” (HR Ibnu Majah). Tapi, juga menyangkut ibadah lainnya, sebagai aktualisasi kita menuju Allah.

Jika burung terbang dengan sayapnya, maka manusia membumbung tinggi dengan himmah-nya. Hasratnyalah yang membawanya ke puncak tertinggi, terbang bebas lepas dari segala ikatan yang membelenggu tubuhnya. Bukankah cita-cita besar ini pula yang menghantarkan seseorang meraih kesuksesan duniawi?

Dengan demikian, jika dalam banyak ayat Alquran dan hadis Nabi kita kerap dianjurkan agar bersegera melakukan amal salih, maka teks-teks syar’i ini seyogianya menginspirasi kita agar gemilang pula dalam mengarungi gelanggang kehidupan duniawi ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement