Rabu 13 Dec 2017 14:24 WIB

MUB di Bekasi Adakan Pertemuan, Ada Apa?

Rep: Farah Noersativa/ Red: Agus Yulianto
 Kerukunan umat beragama Majelis Ulama Indonesia (Ilustrasi)
Foto: ROL/Casilda Amilah
Kerukunan umat beragama Majelis Ulama Indonesia (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Majelis Umat Beragama (MUB) di Kota Bekasi mengadakan pertemuan di kantor Pemerintah Kota Bekasi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bekasi. Pertemuan itu dihadiri oleh para pemuka agama dan juga Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, Rabu (13/12).

Rahmat mengatakan, pertemuan ini merupakan sebuah ajang silaturrahmi dalam mempererat kerukunan antar umat beragama di Kota Bekasi. "Silaturrahmi saja dengan seluruh MUB di Kota Bekasi untuk menjaga kerukunan beragama kita," tuturnya kepada Republika.co.id, Rabu (13/12).

Dia menyebut, dalam pertemuan itu juga membahas mengenai bagaimana menjaga kondusivitas di Kota Bekasi menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru. "Kalau bicara natal, di situ (MUB) sudah ada. (Mereka) sampaikan kepada jemaatnya, Natalnya yang tertib, agama lain juga harus menghormati," ujarnya.

Terkait dengan potensi perselisihan di Kota Bekasi, Rahmat tak memungkiri ada potensi meskipun sedikit. Ada dikitlah persoalan rumah ibadah. "Selama peradaban itu ada, pasti ada potensi perselisihan," katanya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bekasi M Abdillah mengungkapkan, forum silaturrahmi ini juga untuk membangun komunikasi antaragama untuk mengamankan perayaan hari raya Natal dan Tahun Baru di Kota Bekasi. "Ini juga untuk koodinasi dan membangun komunikasi menjelang Natal dan Tahun baru," ujarnya.

Abdillah mengatakan, kehadiran MUB sampai ke lini kelurahan sejauh ini dapat memperkuat kerukunan umat beragama. Selain itu juga, kata dia, dapat membangun rasa persatuan dan kesatuan umat beragama.

Dikatakan Abdillah, menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru dan juga menjelang Pilkada, pasti terdapat potensi perselisihan antara kelompok satu dengan yang lain. "Dengan cara ini-lah, kita redam bersama, agar kerukunan tetap terjaga," ujarnya.

Dari MUB yang ada di tingkat kecamatan dan kelurahan ini, menurutnya, dapat memberikan deteksi dini bila terdapat adanya potensi perselisihan antar umat beragama. "Bila ada permasalahan sedikit pun kita langsung atasi cepat-cepat," katanya.

Permasalahan itu, kata dia, kemudian tak cepat muncul ke permukaan karena telah diatasi terlebih dahulu sampai ke sektor kecil seperti lurah dan camat. Dengan kerja sama seluruh lini, Kota Bekasi pun masih aman dan kondusif akan potensi perselisihan antaragama.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi, KH Zamakhsyari Abdul Majid mengatakan, sebagai salah satu unsur pemuka agama di Kota Bekasi harus menjalankan tugas sesuai dengan porsinya. Prinsipnya adalah bagaimana menjaga kerukunan di tengah-tengah umat beragama yang berbeda-beda.

Dia mengatakan, kerukunan merupakan aset dalam membangun bangsa. Sehingga, penting bagi bangsa Indonesia untuk menciptakan suasana harmonis di tengah-tengah perbedaan.

Kehadiran MUB, kata dia, sudah seharusnya utuk menciptakan suasana harmonis dengan pemikirian yang membangun. "Jangan sampai menciptakan suasana yang gaduh atau suasana bisa mengganggu ketertiban," ujarnya.

Hal itu, menurutnya, juga termasuk dalam sikap pada saat perayaan Hari Natal dan Tahun Baru. "Adapun persoalan natal kita kembalikan kepada umat nasrani, dan kita di sini pun tetap menjaga ketenangan dan juga ketentraman dengan saling menghargai dan menghormati," tuturnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement