Rabu 29 Nov 2017 19:00 WIB

Masjid Muhammad Ali Kairo Simbol Modernisme Mesir

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Masjid Muhammad Ali Kairo
Foto: Wikipedia
Masjid Muhammad Ali Kairo

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Masjid Agung Muhammad Ali terletak di ibu kota Mesir, Kairo. Rumah ibadah ini mengambil nama dari sosok Muhammad Ali Pasha al-Mas'ud ibn Agha (1769-1849), seorang perintis Mesir modern.

Pasha merupakan gelar untuk penguasa yang meliputi sebuah negeri di bawah Kesultanan Ottoman. Pengaruh Muhammad Ali menandakan akhir dari warisan Kesultanan Mamluk di Mesir.

Lokasi pembangunan Masjid Agung ini bertempat di bekas Istana Mamluk. Menurut Doris Behrens-Abouseif dalam bukunya Islamic Architecture in Cairo An Introduction, hal itu serupa dengan cara yang telah dilakukan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi berabad-abad sebelumnya.

Diketahui, al-Ayyubi ingin menghapus jejak peninggalan Kekhalifahan Fatimiyah (909-1171), begitu ia menaklukkan Mesir. Muhammad Ali pun menghancurkan semua istana dan bangunan khas Kesultanan Mamluk di Mesir. Inilah sebabnya mengapa tidak ada bangunan-bangunan yang bertahan dari tiap kesultanan yang pernah menguasai Mesir.

Arsitektur Masjid Agung Muhammad Ali lebih mirip dengan gaya bangunan khas Kesultanan Mamluk di ibu kotanya, Istanbul. Doris menilai, hal ini cukup mengherankan. Sebab, sebagai seorang Pasha, Muhammad Ali cukup merdeka dari pengaruh politik Istanbul.

Namun, Doris melanjutkan, corak bangunan Masjid Agung Muhammad Ali juga dipengaruhi gaya Eropa Barat, khususnya Prancis. Sebagai informasi, Napoleon Bonaparte dan pasukannya menjelajahi Mesir dan Suriah pada 1798.

Muhammad Ali mendatangkan seorang arsitek dari Prancis, Pascal Coste. Namun, selang waktu kemudian, ia memecat Coste dan memanggil seorang arsitek Armenia, yang namanya tak tercatat sejarah.

Sumber lain menyebutkan, arsitek lain asal Istanbul, Yusuf Busnak. Rancang bangun Masjid Agung Muhammad Ali dibuat sedemikian rupa, sehingga mirip Masjid Sultan Ahmad di Istanbul.

Dalam memoarnya, Muhammad Ali juga mempersembahkan masjid ini untuk mengenang anaknya, Tusun Pasha, yang meninggal lantaran sakit pada September 1816.

Pembangunan Masjid Agung berlangsung pada 1830-1848. Pada paruh awal abad ke-19, bangunan ini menjadi masjid terbesar di seantero wilayah Kesultanan Ottoman. Ia menjadi ikon bagi Kota Kairo.

Masjid Agung Muhammad Ali memiliki kubah besar yang dikelilingi empat kubah kecil di tiap sudutnya, dan empat kubah setengah lingkaran di tiap sisinya. Luasnya adalah 41 kali 41 meter persegi. Kubah besar tadi bergaris tengah 21 meter dan tingginya 52 meter.

Di sisi baratnya, dua menara kembar menjulang setinggi 80 meter. Bahan utamanya adalah batu gamping. Mihrabnya terletak di bagian tenggara Masjid Agung. Tingginya tiga lantai dan terdapat kubah di atasnya yang berbentuk setengah lingkaran. Masjid Agung ini mempunyai tiga pintu di tiap sisinya, yaitu sisi utara, barat, dan timur. Namun, gelombang pengunjung biasa masuk dan keluar melalui pintu gerbang timur laut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement