Ahad 01 Oct 2017 06:21 WIB

Islam tidak Mengenal Horoskop

Rep: Mgrol97/ Red: Agus Yulianto
Aurora
Foto: nasa.gov
Aurora

REPUBLIKA.CO.ID, Alquran merupakan kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya untuk dijadikan pedoman dalam urusan dunia maupun akhirat. Di dalam Alquran digambarkan pula keindahan alam yang membuat manusia kagum salah satunya mengenai perbintangan.

Firman Allah dalam QS. Al Hijr ayat 16: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (galaksi di langit) dan Kami telah menghias langit itu bagi orang-orang yang memandangnya...”

Dikutip dari Islamicity, firman Allah tersebut menyiratkan bahwa ada dunia yang melampui bintang-bintang bersinar ini. Dimana yang bisa kita lihat dan amati hanyalah langit terdekat. Kita tidak tahu berapa banyak dunia kosmis yang berada di luar itu. Dengan menyebut langit terdekat ‘Asmaal-al-dunya’ Alquran telah menunjukkan fakta astronomi yang dalam hanya dalam satu kata.

Pada beberapa konteks dalam  Alquran, tidak ada yang tahu realistis astronomi yang sesungguhnya. Misalnya, Alquran menggunakan istilah “Masaabih’ yang berarti lampu bersinar. Maha Pengasih Allah yang telah mengatur bintang dan planet ini sedemikian rupa sehingga terlihat indah bagi kita. Hingga manusia takjub melihat betapa indahnya bintang saat bersinar.

Begitu pula dengan keindahann bulan yang telah melegenda sejak awal peradaban. Bagi penyair dan tokoh sastra, bulan menjadi objek keindahan yang luar biasa. Namun, terdapat fakta bahwa manusia menjadikannya sebagai objek dugaan atau astrologi.

Allah berfirman dalam QS. Al Mulk ayat 5-6: “Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nayal. Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya akan mendapat azab jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Mereka yang keliru berusaha meyakinkan manusia bahwa takdir manusia terkait dengan bintang-bintang. Dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 62 bahwa pemuja bintang disebut  Saa-e-bin. Disebutkan pula dalam kisah Nabi Ibrahim AS dimana mereka menyembah bintang seolah-olah Tuhan semesta alam. Kalaupun pada saat itu bintang-bintang tidak disembah, akan dikaitkan dengan takdir manusia. Alquran menyebutkan bahwa peramal, tukang sihir, dan penyihir biasa memprediksikan masa depan dengan menyusun horoskop.

Alquran sangat menantang orang-orang Arab yang sangat percaya pada kepercayaan takhayul. Quran menegaskan bahwa mereka yang terlibat dalam memprediksi takdir menggunakan astrologi, bagaikan melemparkan panah ke dalam kegelapan. Dalam Alquran disebutkan ‘rajum-al-shayaatin’ bahwa bintang-bintang di langit dikagumi karena kecantikannya, namun tidak digunakan untuk membuat ramalan. Faktanya  banyak astrolog dan peramal yang terlibat dalam dugaan menggunakan bintang-bintang ini. Mereka memegang keyakinan bahwa masa depan manusia terikat pada mereka!

Allama Iqbal seorang penyair dan filsuf asal Pakistan berkata, “Bagaimana astrolog mengidentifikasi tempat Anda dalam kehidupan dari melihat bintang-bintang? Anda adalah debu yang dibuat sepenuhnya hidup, tidak tergantung pada posisi bintang! “

Takdir bergantung pada usaha dan perjuanganyang dilakukan secara terus-menerus dan disertai tawakal kepada Allah SWT. Kemampuan manusia digunakan untuk menjalankan hak-hak yang diberikan Allah dengan keyakinan dan keteguhan yang dalam. Tetapi hal itu dirampas dengan adanya takhayul, lalu apa yang tersisa dari manusia?

Dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala” (QS. Al-Mulk ayat 5)

Dan itulah seburuk-buruknya tempat kembali” (QS. Al-Mulk ayat 6 )

Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (QS. Al Maidah ayat 33)

Alquran menegaskan bagi orang-orang yang mencari petunjuk tentang takdir melalui perbintangan akan menderita di dunia dan akhirat. Allah mengutus utusan-Nya seperti Ibrahim AS untuk merangkul secara keseluruhan dan mngeluarkan mereka dari  pemikiran jahiliyah yang telah mengakar. Quran menyajikan klaimnya berdasarkan bukti dan logika rasional dan meminta para penentangnya untuk memberikan bukti klaim mereka juga. Sebab kebenaran tidak sekedar diputuskan oleh perasaan baik, melainkan oleh pengetahuan dan akal.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement