Kamis 26 Oct 2017 17:14 WIB

Kiai Harusnya Mendapat Tunjangan

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Kiai Amin Fauzan Badri (Ilustrasi)
Foto: dok. Kemenag.go.id
Kiai Amin Fauzan Badri (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Peringatan Hari Santri Nasional (HSN), disambut baik oleh kalangan pesantren. Menurut Wakil Ketua PW Nahdlatul Ulama Provinsi Jawa Barat Abu Bakar Sidik, HSN ini merupakan bentuk pengakuan pemerintah pada eksistensi santri.

Secara regulatif, ia menilai dukungan pemerintah pada pesantren memang sudah bagus. Namun, dari sisi kesejahteraan kiai masih harus diperhatikan.

"Sekarang, belum ada tunjangan untuk Kiai. Kalau guru ngaji atau ustaz sudah ada ya," ujar Abu Bakar di sela-sela acara HSN Tingkat Jabar, Kamis (26/10).

Menurut Abu Bakar, penghargaan pemerintah terhadap eksistensi pesantren terus berkembang baik. HSN sendiri, harus dimaknai sebagai hari untuk mengingatkan peran santri di masyarakat dan menyemangati santri untuk terus mencari ilmu agama.

"Karena kan keberadaan pesantren ini memang untuk mencari ilmu agama. Insya allah, ke depannya pembiayaan dari pemerintah terhadap pesantren akan bertambah," katanya.

Pesantren, kata dia, harus tetap menjaga kemandirian. Karena, kalau tak mandiri nanti fatwanya tak jelas. Hal lain yang harus diperhatikan pemerintah kepada pesantren, adalah memperbaiki fisik bangunan pesantre dan sanitasi karena hingga saat ini masih banyak yang mengkhwatirkan. "Itu yang terus kami kembangkan," katanya.

Bentuk pengakuan lain pemerintah pada santri, kata dia, adalah dengan mengakui pendidikan yang ada di pesantren. Yakni, semua santri ijazahnya diakui ketika akan masuk ke perguran tinggi. Santri yang mondok pun, bisa mendapatkan dana BOS. "Santri sekarang punya masa depan bagus. Gubernur, menteri ada yang lulusan dari pesantren," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement