Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Ulama Besar Ulugh Beg dalam Catatan Krisciunas

Jadikan Samarkand Pusat Budaya Islam

Sabtu 07 Okt 2017 10:05 WIB

Red: Agus Yulianto

 Sisa kemegahan Observatorium Ulugh Beg

Sisa kemegahan Observatorium Ulugh Beg

Foto: en.wikipedia.org

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Wartawan Republika.co.id, Rahma Sulistya

Ulugh Beg merupakan seorang penguasa Timurid sekaligus astronom, dan matematikawan. Minat utamanya adalah dalam bidang sains dan intelektual. Dia membangun sebuah observatorium di Samarkand. Dalam pengamatannya di abad ke-2, dia menemukan sejumlah kesalahan dalam perhitungan Astronom asal Alexandria, Ptolemy.

Ulugh Beg juga terkenal karena karyanya dalam matematika terkait astronomi, seperti trigonometri dan geometri sferis. Dia membangun Observatorium Ulugh Beg yang agung di Samarkand, yang dianggap oleh para ilmuwan sebagai salah satu observatorium terbaik di dunia Islam pada saat itu dan yang terbesar di Asia Tengah.

Bernama asli Muhammad Taraghy ibn Shhrukh ibn Tmr, dan dikenal sebagai Ulugh Beg, ia lahir di Sultniyya, Iran, pada 22 Maret 1394. Ia meninggal di dekat Samarkand, Uzbekistan pada 27 Oktober 1449. Di bawah pemerintahannya yang singkat, dinasti Timurid mencapai puncak budayanya. Ayahnya, Shh Rokh, merebut kota Samarkand dan memberikan kepada Ulugh Beg, yang menjadikan kota itu sebagai pusat budaya Muslim.

Di sana, ia menulis puisi dan sejarah, serta mempelajari Alquran. Minat terbesarnya adalah astronomi, dan dia membangun sebuah observatorium (dimulai pada 1428) di Samarkand. Dia juga membangun Madrasah Ulugh Beg (1417-1420) di Samarkand dan Bukhara, yang mengubah kota-kota itu menjadi pusat pembelajaran budaya di Asia Tengah.

Dalam sebuah artikel panjang dan terperinci tentang Observatorium Astronomi di Budaya Islam Klasik, Tim Riset FSTC mencurahkan sebuah bagian pada 'The legacy of Ulugh Beg' bahwa mereka memproduksi kembali sebagai perayaan ulang tahun ulama besar ini.

'The legacy of Ulugh Beg'

Dalam sebuah artikel yang dicatat oleh Kevin Krisciunas, mahasiswa Universitas Notre Dame, Jurusan Fisika, tentang 'The Legacy of Ulugh Beg' adalah penulis telah menyajikan sebuah garis besar mengenai subjek observatorium muslim dan terutama cara kerja karya observatorium Samarkand.

Krisciunas mengingatkan bahwa Ulugh Beg sangat berperan penting bukan karena status pangerannya, tapi karena perannya sebagai pelindung astronomi, astronom dan pembangun observatorium. Keistimewaan Ulugh Begh adalah dia orang pertama yang melakukan advokasi dan membangun instrumen astronomi yang dipasang secara permanen.

Hal terpenting observatorium Ulugh Beg terus ditingkatkan oleh beberapa astronom, sekitar 60-70 astronom terlibat dalam observasi dan seminar. Yang terpenting juga, adalah bahwa pengamatan dilakukan secara sistematis untuk periode waktu yang panjang, mulai 1420 sampai 1437. Alasannya, seperti yang Krisciunas jelaskan tentang alasan pengamatan tidak selesai dalam satu tahun tetapi memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun:

"Situasinya sedemikian rupa, sehingga ada kondisi tertentu dalam penentuan hal-hal yang berkaitan dengan planet, dan perlu untuk pengamatan saat kondisi ini terjadi. Perlu, misalnya, dua gerhana di kedua bagian yang gersang adalah sama dan ke sisi yang sama, kedua gerhana ini harus terjadi di dekat simpul yang sama. Demikian pula, sepasang gerhana lainnya yang sesuai dengan spesifikasi diperlukan, dan masih diperlukan kasus lain yang serupa. Perlu diamati Merkurius pada saat pemanjangan pada pagi hari maksimum dan sekali pada perpanjangan malam maksimum, dengan penambahan kondisi tertentu lainnya, dan situasi yang sama ada di planet lain,"

"Sekarang, semua keadaan ini tidak ada dalam satu tahun, jadi pengamatannya tidak bisa dilakukan dalam satu tahun. Saya perlu menunggu sampai keadaan yang dibutuhkan didapat, karena jika kejadian yang ditunggu tiba pada saat kita berhenti mengamati, maka kesempatan akan hilang. Itu akan pergi selama satu atau dua tahun sampai hal itu terjadi sekali lagi Dengan cara ini, kita membutuhkan waktu selama 10 hingga 15 tahun. Bahkan bisa membutuhkan waktu lebih, apalagi ketika mengamati Saturnus yang butuh waktu 29 tahun untuk kembali ke posisi yang sama di antara bintang-bintang (periode revolusi tentang Matahari), periode 29 tahun mungkin telah diproyeksikan dari program pengamatan Samarkand,"

Dalam artikelnya, Krisciunas menyadari peran penting pengamatan Islam, walaupun ia masih menemukan sumber ketidaksepakatan dengan anggapan bahwa observatorium Samarkand memberi pengaruh yang menentukan di Eropa. Sebenarnya warisan lembaga ilmiah ini memang tidak ditransmisikan ke Barat, dimana tradisi ilmiah berkembang sebagai hasil kontak sebelumnya dengan sains Arab.

Namun memang fakta, bahwa karya Ulugh Beg dan rekan-rekannya memiliki dampak penting pada tim ilmuwan Islam lainnya, khususnya pada mereka yang bekerja di Istanbul pada akhir abad ke-16 di bawah kepemimpinan Taqi al-Din ibn Ma'ruf. Sekarang, kemiripan instrumen astronomi Taqi al-Din dengan instrumen Tycho Brahe luar biasa, dan menjadi bukti kuat bahwa astronom Denmark pasti mengetahui prestasi rekan Muslimnya, setidaknya dalam instrumentasi astronomi lapangan.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA