Selasa 03 Oct 2017 19:15 WIB

Hubungan Peradaban Viking dan Islam

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Bangsa Viking/Ilustrasi
Bangsa Viking/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Pada Maret 2015, temuan sebuah cincin wanita Viking bertulis 'Untuk Allah' mengundang penasaran, bagaimana dua peradaban berbeda ini bisa bertemu. Cincin misterius itu memicu sejumlah teori bagaimana ia sampai Swedia.

Cincin itu bisa tak berarti apa-apa bila saja tak ditemukan bukti lain yang menghubungkan Viking dengan peradaban Islam. Sayangnya, amnesia sejarah membuat hubungan keduanya seolah kabur.

Pada abad kedelapan hingga 11 M, Viking menguasai sejumlah wilayah dari Eropa Barat hingga Asia Tengah. Dari sana saja tergambar adanya masa bersamaan keberadaan Viking de ngan kepemimpinan dinasti Islam yang dimulai pada era Abbasiyah.

Pada masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid, kontak peradaban Islam dengan kultur, agama, dan etnik di luar mereka sudah terjadi. Baitul Hikmah jadi buktinya. Bukti-bukti juga menunjukkan adanya hubungan baik antara Harun al-Rasyid dan Raja Charlemagne, pimpinan bangsa Franks sekaligus pendiri kekaisaran Romawi. Kala itu, Charlemagne me rupakan salah seorang penguasa paling ter kemuka di dunia.

Hubungan baik dengan Raja Charlemagne dimanfaatkan pula oleh Dinasti Abbasiyah un tuk mengembangkan hubungan dagang, termasuk dengan para pedagang Viking.

Sama seperti pedagang Muslim, para pedagang Viking juga mengandalkan sistem barter untuk bebe rapa komoditas, seperti bulu, madu, kulit, da ging, ikan, dan beberapa komoditas lain. Perak dan beberapa logam terbilang benda mewah saat itu. Perak Abbasiyah dibawa para pedagang Viking ke Skandinavia, Rusia, dan Baltik.

Selain karena buku karya ilmuwan Muslim yang diterjemahkan ke bahasa-bahasa Eropa, mata uang dirham juga disebut turut berperan dalam perkembangan era Viking dan digunakan sebagai mata uang pada abad 10 hingga 12 M.

Mirip orang Viking, ilmuwan dan para penjelajah Muslim juga senang mengunjungi berbagai tempat. Pada masa awal rute dagang Volga, para penjelajah Muslim pertama kali memperhatikan orang Viking atau Rus dalam bahasa Arab. Orang Viking kemudian dikenal sebagai Rusia atau Oleg karena pangeran bang sa Viking pernah memimpin ekspedisi ke wila yah yang hari ini dikenal sebagai Rusia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement