REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nuansa arsitektur Moor jelas terwakili pada bagian pilar-pilar dan bentuk jendela Masjid Katsyawah. Ada empat pilar di bagian depan masjid ini. Berwarna biru cerah, pilar-pilar ini berbentuk silindris namun tidak besar. Mereka menyangga dan membentuk lengkung setengah lingkaran. Ini dapat mengingatkan pengunjung pada masjid-masjid klasik di Andalusia.
Barangkali, perbedaannya hanyalah bahwa tidak ada corak warna merah-putih yang menghiasi lengkung di antara pilar-pilar itu. Masih di bagian depan Masjid Katsyawah, pada dinding bagian atas lengkung pilar, terdapat dekorasi bermotif tanaman menjalar, berwarna biru. De korasi ini berpusat pada gambar bintang segi delapan yang menyerupai matahari.
motif yang sama juga dite mukan pada ba gian depan atap mas jid ini. Bentuknya seru pa lengkung setengah lingkaran, meskipun tak bisa pula dianggap sebagai sebuah kubah. Sebab, kubah masjid ini terletak agak ke belakang. Warnanya hijau gelap.
Untuk mendekati pintu utama masjid kuno ini, pengunjung mesti me napaki 23 anak tangga. Di bagian interior, langit-langit Masjid Katsyawah menerapkan gaya bangunan khas budaya Moor.
Kompleks Masjid Katsyawah terletak di area yang strategis dan cukup padat penduduk. Di sebelah utara, terdapat perpustakaan nasional Aljazair. Di sisi timurnya, ada museum pahlawan Aljazair dan sejumlah gedung pemerintah pusat.
Kota tua Aljier sendiri berhadapan dengan pesisir Laut Tengah di utara. Keberadaan masjid ini juga sebagai destinasi wisata favorit para pelancong di Aljazair. Mereka dapat mempelajari warisan sejarah dari dua peradaban yang saling berjumpa, yakni antara Islam dan Eropa-Kristen, sebagaimana dialami Masjid Katsyawah.
Berdekatan pula dengan Masjid Katsyawah, ada gereja tua Notre Dame d'Afrique yang berdiri sejak akhir abad ke-19. Bangunan bergaya arsitektur neo-Byzantium itu menampilkan prasasti di bagian depannya, bertuliskan: "Oh Ibu Pertiwi Afrika, keselamatan untuk kami dan saudarasaudara Muslim kami."




