Senin 04 Sep 2017 20:45 WIB

Masa Depan Dagestan yang Suram

Rep: Amri Amrullah/ Red: Agung Sasongko
Masjid Agung di Makhachkala, Dagestan.
Masjid Agung di Makhachkala, Dagestan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dagestan adalah tempat kelahiran Imam Shamil, pejuang legendaris yang memelopori perlawanan sengit masyarakat Chechnya dan Dagestan terhadap Kekaisaran Rusia pada abad ke-19 silam. Nama sosok tersebut sampai saat ini masih dihormati oleh masyarakat di kedua negeri, baik Dagestan maupun Chechnya.

Ketika rezim komunis Bolshevik berusaha menancapkan kendalinya di Kaukasus pada awal dekade 1920-an, Dagestan berganti status menjadi republik otonom Soviet di bawah naungan Federasi Rusia. Selama periode kepemimpinan Joseph Stalin (1922-1953), banyak orang Dagestan yang melarikan diri ke negeri tetangga, seperti Chechnya dan beberapa kawasan lainnya.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, pemerintahan Republik Dagestan tetap berada di bawah kendali Rusia. Akan tetapi, negeri itu kemudian menjadi 'terkenal' lantaran meningkatnya kejahatan di tengah-tengah masyarakatnya. Tidak hanya itu, korupsi yang kian merajalela di kalangan elite pemerintahannya juga turut mempersuram masa depan negeri itu.

“Posisi geografis Dagestan yang berbatasan langsung dengan Azerbaijan di selatan, kini juga dimanfaatkan sebagai pintu gerbang pemasaran narkoba dari Rusia,” ungkap Enver Kisriev dalam karya tulisnya, “Dagestan: Power in the Balance”.

Pada Agustus 1999, kelompok militan di bawah pimpinan Shamil Basayev mendeklarasikan berdirinya negara merdeka di beberapa bagian Dagestan dan Chechnya. Kelompok itu juga menyerukan kaum Muslimin yang tinggal di kedua negeri untuk ikut mengangkat senjata melawan Rusia.

Sejumlah pejuang Chechnya pun menyeberang ke Dagestan untuk mendukung gerakan itu. Akan tetapi, pasukan Rusia pada akhirnya mampu memadamkan pemberontakan tersebut hanya dalam beberapa pekan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement