Jumat 07 Jul 2017 17:31 WIB

Halal Bihalal, Cinta, dan Toleransi

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Budi Raharjo
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar memberikan tausiyah.
Foto: Ronggo Astungkoro
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar memberikan tausiyah.

REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG -- Apabila Alqur'an dijadikan satu kata saja, kata itu adalah cinta. Jika cinta sudah berbicara, berarti kita sebagai manusia harus bersedia memaafkan segalanya. Hal itu dikatakan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar pada tausiyahnya.

"Kalau sudah bahasa cinta yang berbicara, maka tak ada musuh dan tak ada lawan. Semuanya adalah kita dan tak ada orang asing," ujar Nasaruddin yang saat itu mengisi tausyiah di acara Halal Bihalal Lippo Grup di Aula MRIN, Lippo Village, Tangerang.

Sebelumnya, Nasaruddin membahas soal toleransi dan tradisi halal bihalal dalam agama Islam dan di Indonesia. Menurutnya, toleransi dalam Islam itu luar biasa. Nabinya, Muhammad SAW, pun sangat lembut.

"Ini yang hebat dari Nabi Muhamad SAW. Suatu saat ia iba melihat rumah ibadah sudah lama terbengkalai tidak dibangun. Nabi meminta 'sahabatku, bantu rumah ibadah saudara-saudara kita yang terbengkalai. Kasihan mereka ibadah tak ada rumah ibadahnya'," kisah Nasaruddin kepada para peserta halal bihalal.

Jadi, lanjut dia, Muhammad SAW tak pernah merusak ibadah orang lain. Bahkan, dianjurkan untuk dibangun. Namun, Nasaruddin heran, mengapa kadang-kadang umatnya justru keras. "Islam yang sebenarnya itu adalah yang ditampilkan Allah SWT. Nabi mengatakan, contohlah akhlak Allah, yang maha pengasih dan maha penyayang," jelas dia.

Selain itu, Nasaruddin juga memberikan materi tausiyah tentang makna halal bihalal. Ia mengatakan, setelah kita berpuasa satu bulan penuh, kita bagai bayi baru lahir yang tak ada dosa. Dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT. Bisa dikatakan, dosa secara vertikal sudah diampuni oleh Allah SWT. Hubungan tersebut berbeda dengan kita sesama manusia. Secara horizontal, kita juga harus saling bermaaf-maafan.

"Kekeliruan secara horizontal harus sendiri. Rasa berdosa dan bersalah itu jadi beban bagi individu. Selama masih begitu, orang tak bisa bekerja secara maksimal. Melalui halal bihalal ini, secara vertikal diampuni Allah, secara horizontal kita maaf-maafan sesama kita. Jadi, ada energi dan visi baru dalam melangkah kedepannya," tutur dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement