Rabu 21 Jun 2017 10:57 WIB

Muslim Jadi Korban Sebenarnya dalam Terorisme Global

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Agus Yulianto
 Warga muslim Amerika Serikat di kawasan Brooklyn, New York (Ilustrasi)
Foto: AP/Mark Lennihan
Warga muslim Amerika Serikat di kawasan Brooklyn, New York (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MARYLAND -- Saat aksi terorisme oleh militan Muslim radikal tengah mendominasi berita-berita utama dunia, para periset dari National Consortium for the Study of Terrorism and Responses to Terrorism (START) justru mengungkap fakta lain. Pusat penelitian dan pendidikan di University of Maryland ini percaya, umat Islam telah menjadi korban sebenarnya dari aksi terorisme di seluruh dunia.

Direktur Eksekutif START William Braniff dan timnya mempelajari penyebab dan konsekuensi terorisme terhadap manusia. Mereka mengumpulkan rincian tentang sejumlah serangan seperti serangan terhadap Muslim di London pada Senin (19/6).

Apa yang mereka temukan adalah umat Islam menjadi kelompok yang paling terpengaruh secara keseluruhan. "Di Timur Tengah, umat Islam adalah korban paling mungkin dari upaya terorisme dan kontraterorisme," kata Braniff kepada ABC News.

Hasil penelitian START mungkin mengejutkan orang-orang Barat. Mereka selama ini menganggap terorisme adalah serangan tingkat tinggi, seperti yang dilakukan di AS dan Eropa, misalnya serangan 11 September 2001 dan penembakan massal di klub malam Orlando tahun lalu.

Setelah Braniff dan timnya melihat terorisme secara lebih komprehensif, termasuk yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika, cukup jelas bahwa umat Islam paling sering dijadikan sasaran.

Pada 30 Mei lalu, misalnya, ISIS membunuh 31 orang di Irak dalam dua pemboman. Satu serangan menggunakan bom mobil, dan serangan lainnya menargetkan sebuah toko es krim yang populer di Baghdad.

Namun, pemboman tersebut tidak menarik perhatian media Barat, jika dibandingkan dengan serangan bom bunuh diri di arena konser Ariana Grande di Manchester, Inggris, pada 22 Mei lalu. Dalam serangan di Manchester, Salman Ramadan Abedi membunuh lebih dari 20 orang dan menyebabkan puluhan lainnya cedera.

Tidak hanya di negara mayoritas Muslim, Braniff menekankan, umat Islam juga menghadapi ancaman terorisme di luar negaranya. Para peneliti START menemukan adanya peningkatan tindak kekerasan terkait terorisme terhadap umat Islam di 35 negara, termasuk AS dan negara-negara Eropa, dalam beberapa tahun terakhir.

"Di sini, kita telah melihat peningkatan serangan yang dilakukan oleh ekstremis Islam, tapi juga serangan teroris yang menargetkan umat Islam," ungkapnya.

Manajer Program Database Terorisme Global START Erin Miller, yang melacak serangan teror sejak 1970, sepakat bahwa serangan terhadap umat Islam semakin meningkat. Ia juga memiliki pertanyaan yang sama mengapa media memberi perhatian yang berbeda.

"Ada banyak serangan terhadap umat Islam di Barat, tapi mereka seringkali kurang diperhatikan," katanya kepada ABC News.

Miller mengutip sebuah laporan dari media Jerman yang mengatakan ada 3.533 serangan terhadap para pengungsi Muslim di Jerman selama 2016. Serangan tersebut melukai 5.060 orang, termasuk 43 anak-anak, namun tidak mengakibatkan korban jiwa.

Presiden AS Donald Trump sering dikritik oleh kelompok hak asasi manusia karena tidak banyak menentang supremasi kulit putih. Ia selalu gagal menanggapi kekerasan yang dialami umat Islam dan bukan kekerasan yang dilakukan oleh mereka.

"Sulit jika ingin Presiden Trump segera merespons serangan teror terhadap umat Islam," ujar Ibrahim Hooper dari Council on American-Islamic Relations (CAIR) dalam sebuah pernyataan.

Hooper mengkritik tanggapan Trump terhadap serangan di masjid di London yang menewaskan Nabra Hassanen, gadis berusia 17 tahun dari Virginia. Menurut polisi, ia diserang di dekat masjid yang didatanginya.

"Kebisuan Trump benar-benar mengirimkan pesan negatif kepada komunitas Muslim Amerika bahwa kehidupan dan keamanan mereka tidak sepenting kehidupan dan keamanan warga lain," tambah Hooper.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement