Jumat 16 Jun 2017 16:31 WIB

Jangan Berhenti Berdoa

Rep: A Syalabi Ichsan/ Red: Agung Sasongko
Ilustrasi Berdoa di puncak bukit Uhud
Foto: Antara/Zarqoni
Ilustrasi Berdoa di puncak bukit Uhud

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Doa merupakan sarana komunikasi spesial antara seorang hamba dengan Tuhannya. Di dalam doa, tebersit keimanan seorang hamba bahwa doanya akan didengar. Meski tak semua dikabulkan, doa tetap dirapalkan.

Kesabaran dan keyakinan yang mantap tentang akan adanya jawaban dari Allah Yang Mahadekat tidak membuat seorang hamba berhenti berdoa manakala keinginannya belum diijawab. Tak jarang, hamba yang saleh bahkan menikmati be lum dikabulkannya doa. Karena itulah yang membuatnya semakin khusyuk larut dalam zikir dan shalat.

"Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat dan Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa bila dia berdoa kepada- Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mere ka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS al-Baqarah: 186).

Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mish bah menjelaskan, apabila Alquran menggunakan bentuk tunggal untuk menunjuk kepada Allah, artinya sesuatu yang ditunjuk itu hanya khusus ditujukan kepada Allah. Bukan selain Nya. Kalaupun ada selain-Nya, ia dianggap tiada karena peranannya ketika itu sangat kecil. Itu sebabnya pemberian tobat dan perintah beribadah kepada-Nya selalu dilukiskan dalam bentuk tunggal.

Berbeda saat Allah Yang Mahakuasa ditunjuk dalam bentuk jamak. Kata ganti tersebut biasanya menunjukkan adanya keterlibatan selain Allah dalam sesuatu yang ditunjuk itu. Karena itu, dalam menguraikan penciptaan Adam, Allah menunjuknya dengan bentuk tunggal. Allah ber firman: "Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku." (QS Shad:75).

Sementara itu, Allah SWT menggunakan bahasa Kami (jamak) saat berbicara tentang reproduksi. "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya." (QS at-Tin: 4). Ini karena dalam reproduksi itu terdapat keterlibatan bapak dan ibu. Berbeda dengan penciptaan Adam.

Karena itu, doa yang disampaikan da lam ayat tersebut ditujukan kepada Allah SWT. Tanpa intervensi pihak lain. Allah pun telah berjanji akan menjawabnya langsung tanpa perantara orang lain. Hanya saja, bisa saja permintaan si pemohon ditun da beberapa waktu demi kebaikannya juga. Allah pun kemudian membuktikan doanya tersebut diijabah dalam bentuk yang lebih baik pada masa yang akan datang. Karena itu, modal doa adalah ya kin bahwa Allah akan berkenan. "Berdoa lah kepada Allah disertai dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memperkenankan."

Muhammad Husein Thabathaba'i dalam sebuah tulisan berjudul "Tafsir Atas Ayat Alquran Aku Mengabulkan Doa" mengungkapkan, ayat di dalam surah al- Baqarah ini termasuk unik karena Allah SWT merujuk kepada Diri Sendiri sebagai orang pertama tunggal sebanyak tujuh kali. Deklarasi Allah SWT, "Bahwa sesungguhnya Aku dekat" menegaskan di mana posisi Allah sebenarnya terhadap hamba.

Tak hanya itu, Thabathaba'i pun menjelaskan, ayat tersebut berada setelah dua ayat menyangkut ibadah puasa Ramadhan. Bulan penuh berkah ini memang menyajikan waktu-waktu terbaik untuk berdoa. Tidak hanya pada tanggal tertentu, tapi setiap hari pada saat Ramadhan. Ketika sahur (doa sepertiga malam terakhir), pada saat berpuasa (satu dari tiga golongan doa yang tidak tertolak), hingga waktu berbuka.

Belum lagi ketika Lailatul Qadar diturunkan pada malam-malam ganjil di se puluh malam terakhir. Bila seorang hamba mendapatkan malam yang lebih baik dari seribu bulan ini, kualitas iman dan takwanya akan semakin meningkat. Jika sudah mencapai kualitas tersebut, dia bisa termasuk orang-orang yang dikabulkan doanya. "...Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa bila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku." Wallahu a'lam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement