Rabu 14 Jun 2017 21:24 WIB

Adab Menyikapi Perbedaan

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Perbedaan zona waktu (ilustrasi)
Foto: AP
Perbedaan zona waktu (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prof Hani bin Abdullah al-Jabir dalam artikelnya yang berjudul “Min Adab Al Khilaf wa at-Ta’amul Ma’a al Mukhalif”, mengatakan, etika menghadapi kenyataan berbeda berikutnya ialah mempertimbangkan dan menjaga maslahat serta menghindari kerusakan. Kaidah yang berlaku di syariat ialah menghilangkan segala bentuk kekisruhan. Baik di tingkat internal ataupun eksternal masyarakat.

Dalam pandangan Ibnu Qayim al- Jauziyah, penyelesaian atas kemungkaran memang dianjurkan dengan kebaikan agar berakhir positif. Namun, jika solusi atas tindakan mungkar itu justru memancing kerusakan yang jauh lebih besar, maka lebih baik menahan diri.

Hani juga mengungkapkan adab menyikapi perbedaan lainnya, yaitu memahami bahasa dan inti pembicaraan yang dimaksud. Pendapat apa pun yang disampaikan oleh lawan, maka tak sepatut nya ditelan mentah-mentah. Penting memahami apa hakikat pandangan yang ia sampaikan.

Hal ini, kata Imam as-Subuki, perlu diperhatikan dengan baik dalam menelaah tiap pendapat seseorang. Ia melihat tak sedikit orang yang menukil pendapat tokoh, sementara ia menafsirkannya berbeda.

Padahal, tafsiran tersebut bukanlah inti dari pembicaraan sang tokoh. Sikap berhati-hati membaca pemikiran kubu lain itu dicontohkan dengan baik oleh Ibnu Taimiyah saat menyikapi pernyataan Imam al-Junaid terkait konsep tauhid.

Dalam makalahnya tersebut, ia menekankan pentingnya mengklarifi kasi dan urgensi dialog serta berkomunikasi. Tidak tergesa-gesa memberi kesimpulan, sementara tahap meminta keterangan atau kejelasan belum ditempuh. Prinsip ini sesuai dengan seruan mengklarifi kasi (tabayyun) dalam Surah al-Hujuraat ayat 6.

Anjuran itu pula hendaknya disokong dengan sikap berprasangka baik. Umar bin Khatab pernah mengingatkan, jangan terburu-buru menjustifi kasi ungkapan jelek yang keluar dari seseorang, sementara terdapat kemungkinan hal positif yang ada dalam dirinya.

Tak lupa, Hani menekankan agar ber sikap fair dan terbuka. Jika ternyata kebenaran ada di kubu lawan, maka ke napa tidak dengan lapang dada menerimanya. Imam Syafi ’i, misalnya. Ia siap menerima kebenaran dari pihak lawan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement