Senin 01 May 2017 14:23 WIB

Dari Kacamata Gratis Hingga Lomba Melukis Payung Ala Dompet Dhuafa

Rep: Andrian Saputra/ Red: Agus Yulianto
Parni Hadi, Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa
Foto: Agung Sasongko/ROL
Parni Hadi, Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa

REPUBLIKA.CO.ID, Menggantri rapi, ratusan anak-anak itu tertib menunggu giliran untuk memeriksakan matanya. Mereka adalah pelajar dari berbagai sekolah dasar dan Sekolah Menengah Pertama se-Solo Raya. Mereka begitu antusias, menjadi peserta cek kesehatan mata geratis yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa di Taman Gesang, Taman Satwa Taru Jurug, Solo, pada Senin (1/5) pagi.

Begitupun dengan Ahmad Ardiyanto (13 tahun). Dia sudah menunggu-nunggu ada pemeriksaan mata geratis. Bahkan, semangatnya semakin menjadi begitu mendengar Dompet Dhuafa juga memberikan kacamata secara cuma-cuma bagi pelajar yang mengalami gangguan pada penglihatannya seperti mata minus atau silinder.

Sebab, sejak kacamatanya pecah sebulan lalu. Ardiyanto jadi kesulitan untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Apalagi untuk membaca. Tak ada biaya untuk periksa dan mengganti kaca matanya yang sudah rusak itu. Dulu pun, kacamata yang digunakannya hasil pemberian dari Sekolah.

Ardiyanto pun bersyukur memperoleh kacamata baru. Dia senang, dengan itu dia bisa kembali membaca buku-buku pelajaran dan buku lain kesukaannya.

“Saya sudah menggunakan kacamata sejak setahun lalu. Kalau saya paksa baca tanpa kacamata sulit, jadi malah pusing. Sekolah kasih kacamata tapi kemarin rusak,” kata pelajar SMP Negeri 16 Surakarta itu.

Senada diungkapkan Nabila Rosi Andini (13 tahun).  Kacamatanya memang tak rusak, hanya saja dia sudah merasa tak nyaman menggunakannya. Sebelumnya dia memang sudah ada keinginan untuk datang ke optik-optik terdekat di Solo, untuk memeriksakan kesehatan mata dan mengganti kacamatanya. Namun belum kesampaian.

“Saya sudah periksa mata ke rumah sakit pakai KIS (Kartu Indonesia Sehat) memang geratis untuk kelas satu, tapi saya ke kelas dua tambah lagi lima puluh ribu. Untuk kacamatanya belum bisa keganti,” katanya.

Pemeriksaan kesehatan mata dan pembagian kacamata geratis kepada pelajjar itu memang menjadi bagian dari Gerakan Senyum Nasional (GENYUMAS) yang tengah digalakan oleh Dompet Dhuafa. Ada sekitar 250 frame dan lenca kacamata yang dibagikan kepada pelajar. Selain itu, panitia Dompet Dhuafa juga memberikan voucher potongan harga bagi siswa yang ingin menggunakan kacamata baca dan berkonsuktasi tentang kesehatan mata di optik yang sudah bekerjasama dengan Dompet Dhuafa.

Direktur Medika Dompet Dhuafa Erwi Mukhtaruddin mengungkapkan, dari peserta yang memeriksakan matanya kebanyakan mengalami ganguan penglihatan silinder. Inj disebabkan karena terlalu lama menggunakan smartphone, bermain game dan mmenonton televiai.

“Kebiasaan-kebiasaan seperti main gadget lama itu menjadi penyebabnya, dan banyak juga yang dialami peserta,” katanya.

Warna warni melukis payung

Bersamaan dengan pemeriksaan mata dan pembagian kacamata geratis, di lokasi yang sama, Dompet Dhuafa juga menggelar perlombaan melukis yang diikuti oleh 18 sekolah dasar se-Solo Raya.

Perlombaan itu juga bertujuan untuk memberikan kegembiraan dan mendorong semangat siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya. Misalnya saja Kevin Aldi Binanta (10 tahun), siswa kelas 4 SD Harjodipuran Solo itu tak peduli tangan dan baju yang dikenakannya kecipratan cat pewarna.

Dia terlihat senang bisa menyalurkan idenya menggambar pohon di payung hias yang telah disediakan oleh panitia.

Apalagi panitia telah menyediakan berbagai hadiah menarik bagi siswa dengan hasil karya lukis payung terbaik. Semakin membuat setiap sisa bersemangat.

Pada sesi lain, Pembina Yayasan Dompet Dhuafa, Parni Hadi mengajak guru-guru yang turut hadir untuk berdiskusi tentang kebudaayaan, kecintaan terhadap binatang dan alam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement