Jumat 07 Apr 2017 21:00 WIB

Siapakah Harut dan Marut?

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
Harut dan Marut menurut pendapat ulama adalah dua malaikat (Ilustrasi)
Foto: Blogspot
Harut dan Marut menurut pendapat ulama adalah dua malaikat (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Selain kisah raja-raja Babilonia, juga terdapat kisah lainnya dari kota Babelonia. Dalam Alquran, nama Babel diabadikan dalam salah satu ayat surah Albaqarah [2] ayat 102.

Tetapi, setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya, kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu, janganlah kamu kafir.’ Maka, mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dan istrinya.

Siapakah Harut dan Marut?

Benarkah keduanya malaikat yang diutus Allah? Para mufasir berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan dua orang malaikat itu. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti malaikat, serta ada pula yang menyatakan mereka adalah dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti malaikat.

Kaum Yahudi berpendapat, dua malaikat yang disebut dalam ayat di atas, yakni Harut dan Marut, adalah istilah dari Jibril dan Mikail. Dalam pandangan mereka, keduanyalah yang mengajarkan sihir kepada Sulaiman.

Namun, Allah mendustakan tuduhan Yahudi tersebut dan memberi tahu Nabi Muhamad SAW bahwa Jibril dan Mikail tidaklah menurunkan sihir. Allah juga menyucikan Nabi Sulaiman AS dari tuduhan palsu menyebarkan sihir kepada manusia. Allah memberi tahu Bani Israel bahwa sihir merupakan perbuatan setan yang diajarkan kepada manusia di Babel dan yang mengajarkannya adalah dua laki-laki yang bernama Harut dan Marut. 

Imam Qurthubi berpendapat, kata ‘Harut’ dan ‘Marut’ dalam ayat di atas adalah pengganti dari kata ‘setan’. Kata ‘Maa’ dalam kalimat wamaa unzila ‘alal malakaini merupakan maa nafyi (ditiadakan), bukan sebagai isim maushul yang bermakna ‘yang’. Jadi, kata ‘Maa’ merupakan negasi dan di-‘athaf-kan (diikutkan) kepada wamaa kadara sulaimaanu.  Karena itu, kata haaruuta wamaarut merupakan badal (pengganti) dari setan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya Ibnu Katsir sependapat dengan pandangan Al-Qurthubi. Namun, Ibnu Katsir berbeda pendapat bahwa Harut dan Marut merupakan pengganti setan. Sebab, kata Ibnu Katsir, hal itu tidak sejalan dengan gambaran setan. Sesungguhnya, setan itu tidak memiliki naluri yang mendorong manusia untuk menasihatinya agar berbuat kebaikan. Saya lebih cenderung kata ‘Harut’ dan ‘Marut’ dalam ayat tersebut merupakan pengganti manusia, ujar Ibnu Katsir.

Karena itu, lanjutnya, makna ayat di atas adalah Sulaiman tidaklah kafir dan tidak diturunkan sihir kepada dua malaikat, namun setanlah yang kafir karena mereka mengajarkan sihir kepada manusia. Yakni, setan mengajarkan sihir kepada Harut dan Marut yang keduanya adalah dua orang manusia. Kemudian, keduanya mengajarkan sihir kepada manusia lainnya. Keduanya tidak mengajarkan sihir kepada khalayak sebelum berkata kepada mereka, Sesungguhnya, kami adalah fitnah. Maka, janganlah kafir. Karena itu, Harut dan Marut merupakan badal dari manusia yang memiliki fitrah memberi nasihat, papar Ibnu Katsir.

Banyak pihak mengatakan, kisah seputar Harut dan Marut berkaitan erat dengan Israiliyat (yang biasa diceritakan dan dibanggakan kaum Yahudi). Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah dalam kitab Al-Israa’iliyaat wa al-Maudhu'aat fi Kutub al-Tafsir (Kisah-kisah Israiliyyat dan Palsu dalam Kitab-kitab Tafsir) juga menyebutkan kisah ini sebagai cerita Israailiyaat.

Sementara itu, Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan, sebenarnya kedua orang itu sudah melarang Bani Israel mempelajari sihir. Sebab, sihir itu dapat mencelakakan mereka. Namun, Bani Israel tetap meminta keduanya untuk mengajarkan sihir tersebut. Akibatnya, terjadilah fitnah yang menyebabkan seorang suami bisa menceraikan istrinya karena sihir itu. Maka, mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dan istrinya. (QS Albaqarah [2]: 102).

Syekh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa beberapa buku tafsir mengatakan, kedua malaikat itu telah diturunkan ke bumi sebagai fitnah sehingga Allah SWT mengazab mereka berdua dengan menggantung kedua kaki mereka. Perkataan para mufasir ini bukanlah hujjah (dalil). Hal itu berasal dari warisan masyarakat Babilonia dan penjelasan orang-orang Yahudi serta kitab-kitab Nasrani. 

Pengajaran sihir yang diberikan Harut dan Marut ini telah diriwayatkan dari Ali RA yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu mengajarkan manusia tentang peringatan terhadap sihir, bukan mengajarkan untuk mengajak mereka melakukan sihir.

Az Zajjaj mengatakan bahwa perkataan itu adalah pendapat kebanyakan ahli bahasa. Artinya bahwa pengajaran kedua malaikat itu kepada manusia adalah berupa larangan. Keduanya berkata kepada mereka, Janganlah kalian melakukan ini (sihir) dan janganlah kalian diperdaya dengannya sehingga kalian memisahkan seorang suami dari istrinya dan apa yang diturunkan kepada mereka berdua adalah berupa larangan. (al-Jami li Ahkamil Qur’an juz II hlm 472). Wallahu A’lam. 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement