Rabu 29 Mar 2017 12:47 WIB

Model Islam Nusantara Dipromosikan di Denmark untuk Lawan Radikalisme

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto
Yenny Wahid
Foto: Antara
Yenny Wahid

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ektrimisme agama tidak hanya menjadi persoalan di sebuah negara. Namun, ia juga merupakan masalah global yang harus diselesaikan melalui kerja sama antar negara. Karena itu, Wahid Foundation mencoba mempromosikan Islam Nusantara di Denmark melalui kerja sama dengan pemerintah Denmark.

Promosi tersebut dilakukan dalam kegiatan Tur Dialog Lintas Agama yang dilakukan pada 20 hingga 24 Maret 2017 lalu. Dalam sejumlah pertemuan selama kunjungan tersebut, pertanyaan yang kerap mengemuka adalah bagaimana cara menghentikan laju ektrimisme agama di dunia. Lebih spesifik, bagaimana Indonesia memainkan peran untuk menangkal isu terorisme?

Menanggapi pertanyaan itu, Direktur Utama Wahid Founation Yenny Wahid mengatakan, bahwa Indonesia termasuk negara yang paling berhasil membendung laju ektrimisme agama di dunia. Mengingat, Indonesia sebagai negara salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia dengan variasi agama di dalamnya.

Dikatakan Yenny, keberhasilan tersebut tidak hanya mengangkat nama Indonesia sebagai negara damai. Namun, sekaligus membantah persepsi dunia tentang agama Islam yang selalu diidentikkan dengan agama teror dan kebencian.

Menurut Yenny, salah satu kunci keberhasilan Indonesia adalah terbangunnya kerja sama yang baik antara pemerintah dan kelompok agama dalam mengatasi masalah keagamaan termasuk ektrimisme agama. “Kerja sama dengan komunitas agama atau masyarakat sipil dengan pemerintah adalah kunci mengatasi radikalisme agama di Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Rabu (29/3).

Ketua PBNU KH Yahya Cholil Stafuq yang juga ikut berkunjung ke Denmark mengatakan, Islam Nusantara dengan konsep Islam berkemajuan dianggap dapat menjadi model gagasan Islam yang paling pas untuk merespons radikalisme dunia. Islam seperti ini, kata dia, juga dikenal dengan istilah islam rahmatan lil alamin, atau yang memberi rahmat terhadap semua golongan.

“Islam Nusantara ini perlu dijadikan percontohan untuk melawan radikalisme oleh masyarakat dunia,” ujar Kiai Yahya.

Sementara Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klynge menganggap, Indonesia merupakan mitra yang penting untuk memperkuat dan memperdalam hubungan kerjasama di berbagai aspek termasuk penanggulangan terorisme agama. “Di dunia di mana agama, sayangnya, dijadikan alat untuk memicu konflik, Indonesia menjadi suara yang penting bagi keberagaman, toleransi beragama dan dialog lintas agama,” ujar Casper Klynge.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement