REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski dibangun pada abad ke-14 M, Masjid Raya Manisa (Ulu Cami Manisa) masih bertengger dengan kokoh dan megah di sisi paling utara Gunung Sipil, Turki. Dari masjid itu, sepandang mata memandang tampak keindahan Kota Manisa—kota yang pernah dikuasai Dinasti Saruhan pada 1313 M itu.
Masjid Raya Manisa dibangun pada 1366 hingga 1367 atas perintah Ishak Celebi (1357- 1388). Ia adalah pemimpin dari Dinasti Saruhan yang menguasai wilayah barat Anatolia mulai dari tahun 1313 M hingga 1410 M sebelum akhirnya daerah tersebut tergabung dalam wilayah kekuasaan Dinasti Turki Usmani alias Ottoman.
Tak jelas nama arsitek yang membidani pembangunan masjid tersebut. Akan tetapi, sumber sejarah menyebutkan bahwa Emet bin Osman adalah orang yang mendesain kompleks masjid tersebut. Disebut kompleks, karena bangunan di lereng gunung itu tidak hanya terdiri dari masjid. Di sana juga terdapat madrasah, mausoleum (makam), dan juga air mancur.
Berjarak sekitar 80 meter di sebelah utara masjid itu terdapat tempat pemandian. Lalu, di bagian timur masjid bisa ditemukan bangunan Mevlevi takiyya atau mevlevihane. Dari segi bahasa, mevlevihane dapat diartikan sebagai ruangan tempat berkumpulnya para sufi.
Meskipun disebut sebagai kompleks, bangunan masjid memang menjadi bagian yang paling dominan. Masjid tersebut terdiri dari dua bagian yang sama luasnya. Bagian pertama adalah ruangan untuk shalat dan yang kedua adalah halaman yang beratap dengan dilengkapi air mancur.




