REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Kementerian Pendidikan Bangladesh tengah bersiap mencetak 2.017 edisi buku teks standar Bengali. Itu disiapkan demi melawan ulama-ulama konservatif yang meminta penghapusan belasan puisi dan cerita yang mengajarkan atheisme.
Dilansir dari The Age, Selasa (24/1), sejak awal tahun buku-buku itu didistribusikan ke sekolah-sekolah tanpa ada penjelasan dari pemerintah. Perubahan itu memang hampir tidak terlihat masyarakat umum, tapi muncul kekhawatiran ada pergeseran intelektual yang dilakukan pemerintah, terhadap Islam radikal.
Bangladesh memang tengah menghadapi kekerasan ekstrimis selama beberapa tahun terakhir, dengan tuduhan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam telah menargetkan penulis dan intelektual sekuler. Hal ini dituduhkan dari meningkatkan peremuan Bangladesh yang mengenakan jilbab secara bertahap.
Selain itu, kekhawatiran kaum sekuler dikarenakan meningkatnya jumlah siswa yang terdaftar di madrasah atau sekolah-sekolah Islam. Saat ini, organisasi keagamaan sekalipun sudah memiliki kekuatan di berbagai aspek, menunjukkan kalau pengaruh Islam memang senantiasa tumbuh di Bangladesh.
Pergeseran ini merupakan yang dulu sempat dikhawatirkan AS, yang akhirnya memutuskan Bangladesh memisahkan diri dari Pakistan pada 1971, dan beberapa tahun selanjutnya mendeskripsikan diri sebagai sekuler dan demokratis. Beberapa tahun terakhir, ideologi Islam tampaknya justru semakin tumbuh walau populasinya terblang miskin.
Namun, selama beberapa tahun terakhir, pemikiran sekuler terasa sangat cepat surut dari ruang publik Bangladesh. Organisasi Islam, begitu terampil memobilisasi diri dan menjadi sulit bagi pemerintah mengabaikan tuntutan mereka, terutama dengan pemilihan umum 2019 yang akan datang.