Kamis 13 Oct 2016 21:00 WIB

Konsolidasi Islam dan Runtuhnya Sriwijaya

Rep: Marniarti/ Red: Agung Sasongko
Selat Malaka
Foto: .
Selat Malaka

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah yang didatanginya mempunyai situasi politik dan sosial budaya yang berlainan. Pada waktu Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada sekitar abad ke-7 dan abad ke-8, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang Muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur.

 W P Groeneveldt dalam Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source menjelaskan, berita Cina zaman T'ang, pada abad-abad tersebut menduga masyarakat Muslim telah ada, baik di kanfu (kanton) maupun di daerah Sumatra sendiri.

(Baca: Peran Kerajaan dalam Dakwah Islam di Jawa)

 Dari abad ke-7 sampai abad ke 12, Kerajaan Sriwijaya masih mengalami kemajuan di bidang politik dan ekonomi. Tetapi, sejak akhir abad ke 12 Kerajaan Sriwijaya telah menujukkan kemundurannya.

 Masih menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, tanda-tanda kemunduran Sriwijaya di bidang perdagangan mungkin dapat dihubungkan dengan berita Chou Ku-Fei pada 1178.

 Dalam catatan Ling-wai-tai-ta yang menceritakan bahwa persedian barang-barang perdagangan di Sriwijaya mahal-mahal karena negeri itu tidak lagi menghasilkan banyak hasil alam.

 Kemunduran di bidang perdagangan dan politik Kerajaan Sriwijaya itu dipercepat pula oleh usaha-usaha kerajaan Singasari di Jawa yang mulai mengadakan ekspedisi Pamalayu pada 1275.

 Sejalan dengan kelemahan yang dialami Kerajaan Sriwijaya, pedagang-pedagang Muslim  yang mungkin disertai pula oleh mubaligh-mubalighnya lebih berkesempatan untuk mendapatkan keuntungan dagang dan keuntungan politik.

 Mereka menjadi pendukung daerah-daerah yang muncul dan yang menyatakan dirinya sebagai kerajaan yang bercorak Islam ialah Samudra Pasai. Kerajaan ini berada di pesisir timur laut Aceh atau Aceh Utara kini. Muculnya daerah tersebut sebagai kerajaan Islam yang pertama di Indonesia diperkirakan mulai abad ke-13.

 Kerajaan Samudra Pasai makin berkembang baik di bidang politik maupun perdagangan dan pelayaran. Hubungan dengan Malaka makin ramai sehingga di tempat itu pun sejak abad ke-14 timbul masyarakat Muslim .

 Perkembangan masyarakat Muslim di Malaka makin lama makin meluas dan akhirnya pada awal abad ke-15 muncul pusat kerajaan Islam. Perkembangan kerajaan Islam itu jelas berhubungan dengan keruntuhan Sriwijaya, yang dipercepat oleh pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit sejak pertengahan abad ke-14.

 Sementara itu, Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara menerangkan, Selat Malaka termasuk rute pelayaran dan perdagangan penting sejak abad pertama. Pada abad ke-11 M, di pantai barat Sumatra, Barus telah ada gudang penyimpanan milik pedagang Tamil.

 Dari temuan arkeologis di Barus dapat dikatakan bahwa batu nisan Tuhar Amsuri tertanggal 602 H lebih awal dari batu nisan Sultan as-Salih yang tertanggal 696 H.

 Ini berarti jauh sebelum pendirian Kerajaan Samudra Pasai sudah ada masyarakat Muslim  yang tinggal di Barus, salah satu tempat di sekitar pantai barat Sumatra.

 Demikian situasi politik kerajaan-kerajaan di daerah Sumatra ketika pengaruh Islam datang ke daerah-daerah itu.

 Setelah kedatangan Islam terjadi proses penyebarannya. Akibatnya tumbuh dan berkembanglah kerajaan-kerajaan Islam di kepulauan Indonesia. Kerajaan-kerajaan Islam ini tumbuh dan berkembang di berbagai daerah, yaitu di Sumatra (Samudra Pasai, kerajaan Islam di Riau (Siak, Kampar, Indragiri), dan Kerajaan Islam di Jambi.

 Selain itu, ada pula kerajaan Islam di Sumatra Barat, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan (Kerajaan Banjar, Kerajaan Kutai, dan Kerajaan Pontianak).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement