Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

3 Jejak Kegigihan Kaum Padri

Rabu 14 Sep 2016 13:55 WIB

Rep: c62/ Red: Agung Sasongko

Potret Tuanku Imam Bonjol (ilustrasi).

Potret Tuanku Imam Bonjol (ilustrasi).

Foto: journals.cambridge.org

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jejak Kaum Padri di Indonesia tercatat sebagai salah satu bagian penting sejarah negeri ini. Muncul di Sumatra Barat pada abad ke-18, Kaum Padri merupakan sebutan untuk sekumpulan ulama, yang hendak melakukan dakwah purifikasi di kawasan Kerajaan Pagaruyung.

Konflik pun terjadi di antara sesama saudara. Semula perang ini adalah konflik agama dengan munculnya sekelompok ulama yang berjuluk Kaum Padri. Istilah Padri sendiri konon diambil dari bahasa Portugis yang berarti pendeta.

Perang saudara antara Kaum Padri dan kaum adat itu berlangsung dari 1803 hingga 1833 M. Perang itu menyeret sesama saudara dari Minang dan Mandailing.

Namun, akhirnya berubah menjadi perlawanan terhadap penjajah Belanda, menyusul kesadaran dari Kaum Adat, yang sebelumnya meminta bantuan Belanda akibat kekalahan mereka. Berikut ini sejumlah benteng yang pernah menjadi saksi kegigihan Kaum Padri.  
 
Benteng Bonjol

Benteng Bonjol dibangun oleh Malin Basa atau Poto Syarif atau Muhamad Syahab, dengan 5.000 pengikutnya atas perintah gurunya, Tuaku Nan Renceh sebagai benteng pertahanan Kaum Padri.

Di Benteng yang difungsikan sebagai pusat rohani dan ekonomi ini Malin Basa menjadi pemimpin, dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.  Sebelum digempur Belanda pada 16 Agustus 1837, benteng yang terletak di sebelah Timur Alahan Panjang, di kaki Bukit Tajadi ini sangat anggun. Namun kini, tinggal puing-puing saja.    

Benten Rao dan Dalu-Dalu

Dua benteng ini memang tidak seluas dan sekuat benteng Bonjol. Benteng Rao dan Dalu-Dalu dibuat setelah Pasaman dikuasai oleh Kaum Padri, yang difungsikan sebagai benteng konsolidasi, bukan pusat komando seperti Benteng Bonjol.

Benteng Rao dipimpin oleh Tuanku Rao, sedangkan Benteng Dalu-Dalu dikepalai Tuanku Tambusi. Kedua perwira Padri ini berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol.

Dengan mengangkat Tuanku Rau dan Tuanku Tambusi sebagai pimpinan Kaum Padri di Tapanuli Selatan, gerakan Padri berjalan lancar tanpa menghadapi serangan dari Belanda. Syariat Islam yang dijalankan di daerah ini lebih tercapai, sesuai misi yang diemban gerakan Padri.
 
Fort Van der Capellen dan Fort de Kock


Dua benteng ini memang bukan dibangun oleh Kaum Padri. Namun, keduanya menjadi saksi kegigihan pasukan Padri yang dipimpin oleh Imam Bonjol dalam melawan pasukan Hindia Belanda.

Perjanjian kerja sama antara Kaum Adat dan Hindia-Belanda tersebut pada akhirnya berbalik merugikan Kaum Adat sendiri, dan menyebabkan runtuhnya Kerajaan Pagaruyung.

Kini, bisa dikatakan hampir tidak ada yang tersisa dari bangunan asli benteng, yang terletak sekitar satu km di sebelah utara Jam Gadang ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA