REPUBLIKA.CO.ID, Tak disangka tak dinyana ternyata di salah satu perkampungan di Kabupaten Purwakarta, ada pondok pesantren yang khusus mengobati pasien dari ketergantungan narkoba dan zat adiktif. Lembaga pendidikan keagamaan tersebut, berada di Kampung Cireok RT 01/01, Desa Cijaya, Kecamatan Campaka, Purwakarta.
Namun, bagi masyarakat dari luar Purwakarta yang ingin ke lokasi ponpes ini, akan sedikit kesusahan untuk mencari jalan masuknya. Sebab, dari Jl Raya Sadang-Campaka menuju ke lokasi, tak ada papan penunjuk sama sekali. Meskipun begitu, santri dari Ponpes Riyadhul Muta’allimin, Kabupaten Purwakarta ini, sangat banyak. Dengan begitu, lembaga pendidikan agama tersebut memang cukup terkenal.
KH Endang Abdul Somad, pimpinan Ponpes Riyadhul Muta'allimin, mengatakan, sebenarnya keberadaan ponpes ini tak ingin tercium oleh media. Sebab, bila sudah nongol di media, efeknya akan banyak masyarakat luas yang mendatangi lokasi ini. Apalagi, dengan keterbatasan fasilitas, maka santri yang direhabilitasi di ponpes ini jadi dibatasi. “Jadi, awalnya promosi ponpes ini hanya dari mulut ke mulut,” ujar Endang, kepada Republika Onlie, belum lama ini.
Meski demikian, saat ini, jumlah santri yang dibimbing mencapai seratusan orang. Mereka, merupakan korban dari penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif. Ponpes ini, khusus dihuni santri laki-laki. Mereka datang dari berbagai daerah seperti, Jakarta dan Bekasi.
Dikatakan Endang, pihaknya sengaja mendirikan ponpes ini berangkat dari rasa kasihan. Mengingat, selama ini, para korban penyalahgunaan narkoba ataupun zat adiktif, harus dibimbing di lembaga pemasyarakatan (Lapas). Tetapi, kebiasaan mereka untuk mengonsumsi barang haram itu, tak juga dihentikan.
Karena itu, dengan metode pengobatan yang sesuai syariat Islam, pihaknya mendirikan Ponpes Riyadhul Muta'allimin. Selain, sebagai wahana untuk pengobatan, mereka yang sudah jadi korban ketergantungan itu terus disirami rohaninya. Supaya, mereka sadar akan kekeliruannya selama ini.
“Pengobatannya, sederhana saja. Awalnya, mereka kita bersihkan. Lalu, dibimbing untuk membacakan ayat-ayat Alquran,” ujar Endang.
Selain itu, mereka setiap hari hanya disuruh berdzikir dan berdzikir untuk selalu mengingat Allah SWT. Dengan cara ini, diharapkan mereka lupa akan ketergantungannya pada zat-zat berbahaya tersebut. Sebab, waktu mereka dihabiskan untuk mengaji Quran, shalat lima waktu, shalat sunnah, berdzikir, serta mendengarkan ceramah.
Dengan kegiatan positif ini, para santri itu akhirnya melupakan kebiasaan lama. Yang mereka ingat, hanya mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Cara ini, diyakini jauh lebih baik ketimbang memasukan korban narkoba dan zat adiktif ke Lapas.
Menurut Endang, dari ratusan santrinya ini, banyak yang awalnya susah disembuhkan. Apalagi, bila mereka sudah //sakau// berat. Tetapi, atas izin Allah SWT perlahan-lahan mereka terbiasa tanpa barang haram tersebut.
"Mereka mesantren di sini yergantung tingkat keparahan dari ketergantungan narkobanya. Semakin parah, semakin lama berada di ponpes ini," ujarnya.
Salah seorang santri Ponpes Riyadhul Muta'allimin, sebut saja Ujang (17 tahun), mengatakan, sejak dua tahun yang lalu, dirinya menjadi anak gelandangan di Kabupaten Subang. Setiap hari, dia berada di kolong jalan layang.
Dengan menjadi anak jalanan ini, akhirnya Bagus terjerumus dalam pergaulan yang salah. "Setiap hari saya dicekoki miras dan lem. Jadi, selama dua tahun saya sakau akibat lem," ujar Bagus.
Kebiasaan ngelem ini, sangat susah berhentinya. Sampai satu hari, Bagus bertemu dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Dia lalu, dibawa oleh Dedi ke Purwakarta untuk dimasukan ke ponpes ini.
Akibat kebiasaannya itu, pertumbuhan fisik Ujang jauh di bawah anak-anak seusianya. Bicaranya juga tidak jelas. Serta, bola matanya selalu bergerak-gerak bebas kesana-kemari alias tidak fokus dalam melihat.
Tetapi, sejak masuk ke ponpes ini, Ujang sudah bisa konsentrasi. Komunikasinya sudah nyambung dan dua arah. Bahkan, kini Ujang sudah hafal dzikir serta doa-doa pendek. Dia berjanji, tidak akan terjerumus lagi pada dunia hitam. Apalagi, kecanduan lem lagi.
Karena itu, dia sangat kerasan tinggal di lingkungan Ponpes ini. "Saya ingin jadi orang yang bermanfaat. Tidak mau jadi anak gelandangan lagi," ujarnya.




