REPUBLIKA.CO.ID, Ornamen masjid yang bernuansa hitam serta kuning keemasan ini, mengadopsi budaya Minangkabau. Dua tahun terakhir, tampak ada yang berbeda di sepanjang jalan raya By Pass, Kabupaten Karawang. Jalan alternatif penghubung dari Warung Bambu menuju Tanjung Pura ini, selalu ramai dilalui pengendara roda dua maupun empat. Dari berbagai bangunan serta hamparan sawah yang hijau di sepanjang jalur itu, ternyata ada satu bangunan yang ramai dikunjungi.
Bangunan itu adalah //baitullah// Masjid An-Nur. Masjid bernuansa putih itu, setiap harinya selalu ramai disinggahi oleh masyarakat yang kebetulan melewati jalur tersebut. Masjid itu, berada di Kampung Babakan Toge, Kelurahan Tanjung Mekar, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang.
Hilir mudik masyarakat setiap harinya, terlihat di masjid tersebut. Terutama, ketika memasuki waktu shalat lima waktu. Kenapa masjid itu terlihat ramai dikunjungi umat? Karena, masjid yang terkenal dengan sebutan Masjid Aliando ini, merupakan satu-satunya fasilitas ibadah di sepanjang jalur alternatif ini.
Ketua DKM Masjid An-Nur Karawang Abas Suryana mengatakan, masjid yang berukuran 1.000 meter persegi itu, dibangun sejak 2012 lalu. Dua tahun kemudian, diresmikan oleh yang mewakafkan dan perwakilan pemerintahan setempat. Setelah resmi berdiri, masjid yang terbuka 24 jam untuk umat ini, selalu ramai disinggahi masyarakat. "Apalagi, bila sudah memasuki arus mudik dan balik lebaran. Setiap harinya, selalu penuh," ujar Abas, kepada //Republika Online//.
Menurut Abas, masjid ini memang sengaja di bangun di sepanjang jalur tersebut. Mengingat, saat pemilik lahan melakukan perjalanan dari Cikampek menuju Jakarta, di antara ruas jalan Warung Bambu sampai Tanjung Pura, tak ada satu pun bagnunan masjid.
Kebetulan, pemilik lahan itu memiliki sawah di pinggir jalan tersebut. Maka, sawah yang luasnya 2.200 meter persegi kemudian, disulap menjadi bangunan untuk beribadah, rumah pribadi dan makam keluarga.
Ternyata, minat umat untuk menunaikan shalat lima waktu di masjid ini cukup tinggi. Bukan hanya penduduk sekitar, melainkan warga dari luar yang kebetulan melintasi wilayah itu, menyempatkan singgah sejenak untuk menunaikan kewajiban.
Karenanya, masjid ini sengaja terbuka 24 jam. Bahkan, siapapun yang kemalaman saat di perjalanan, diperbolehkan untuk beristirahat. Dengan catatan, niat mereka baik. Sebaliknya, jika ada niatan jahat, maka kamera pemantau akan selalu mengawasi gerak-gerik mereka. "Jadi, meskipun masjid ini bebas 24 jam, tetap mengutamakan keamanan," jelasnya.
Abas menyebutkan, masjid ini merupakan cerminan dari perpaduan gaya arsitektur Mesir dan budaya Minangkabau. Karena, masjid ini mayoritas dilapisi oleh kaca yang bening sehingga tampak transparan.
Adapun ornamen-ornamen di dalamnya, yang bernuansa hitam serta kuning keemasan, mengadopsi dari budaya Minangkabau. Termasuk, dua kursi besar di samping kiri dan kanan mimbar (tempat imam) menandakan bahwa pemilik lahan untuk masjid ini, merupakan turunan ningrat di tanah kelahirannya.
"Meski demikian, masjid ini diperuntukan bagi umat dari berbagai kalangan. Tidak ada sekat-sekat keturunan," ujar Abas.
Sementara itu, Isep (20 tahun), marbot Masjid An-Nur, mengatakan, masjid ini tak pernah sepi. Selalu ramai dikunjungi umat. Selain untuk menjalankan shalat lima waktu, masjid ini berfungsi untuk kegiatan lainnya. Seperti, foto //prewedding// atau akad nikah. Bahkan, sampai temu kangen alias reunian. "Jadi, masjidnya multi fungsi," ujarnya.




