Ahad 31 Jul 2016 18:31 WIB

Jasa Budak Afrika dalam Perkembangan Islam di Brasil

Rep: Marniati/ Red: Agung Sasongko
Budak Muslim di Brasil
Foto: gettyimages
Budak Muslim di Brasil

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam pertama kali datang ke Brasil  berkat para pekerja Afrika. Pada masa itu, Brasil memperoleh 37 persen dari semua budak Afrika yang diperdagangkan dan lebih dari tiga juta budak Afrika dikirim ke negara yang menjadi salah satu pemasok kopi terbesar di dunia ini.

Menurut Paul E Lovejoy, dalam Muslim Encounters With Slavery in Brazil, sekitar 1550, Portugis mulai memperdagangkan budak Afrika untuk bekerja di perkebunan gula. Para sarjana mengklaim, Brasil menerima lebih banyak budak Muslim dibandingkan tempat lain di Amerika.

Pada saat peristiwa Perang Barbary yang terjadi pada akhir abad ke-18, beberapa warga Brasil asli datang mengunjungi negeri-negeri Muslim. Ulama Portugis, Antonio Sosa, yang ditahan di Afrika Utara pada 1570-an menyebutkan bahwa Portugis mempertahankan kota paling beragam etnis di dunia, termasuk Amerindian atau suku Indian dari koloni Iberia di Dunia Baru.

Carl A Hanson,  dalam "Economy and Society in Baroque Portugal: 1668-1703 menjelaskan, pemberontakan Muslim pada 1835 di Bahia menggambarkan kondisi perlawanan antara komunitas laki-laki sebagai Muslim Afrika yang dikenal di Bahia pada abad ke-19.

Sebagian besar dari mereka adalah Peserta Nago, sebutan lokal untuk etnis Yoruba. Peserta lainnya termasuk Hausa dan ulama Nupe, bersama dengan Jeje atau tentara Dahomean yang telah masuk Islam atau berjuang dalam aliansi dengan kaum Muslim.

Dimulai pada malam 24 Januari 1835 dan berlanjut keesokan harinya, sekelompok budak Afrika menduduki jalan-jalan Salvador dan selama lebih dari tiga jam, mereka berhadapan dengan tentara dan warga sipil bersenjata.

Meskipun tidak berlangsung lama, pemberontakan itu adalah pemberontakan budak terbesar di Brasil dan pemberontakan budak perkotaan terbesar di Amerika. Sekitar 300 orang Afrika ambil bagian dan diperkirakan korban tewas berkisar 100 orang meskipun jumlah yang pasti tidak diketahui.

Banyak dari peserta dijatuhi hukuman mati, penjara, cambuk, atau deportasi. Pemberontakan memiliki dampak nasional. Akhirnya, otoritas Brasil mulai melakukan upaya intensif untuk memaksa laki-laki Muslim berpindah ke Katolik dan menghapus identitas agama mereka. Namun, komunitas Muslim Afrika tidak terpengaruh dan hingga akhir 1910, diperkirakan masih ada 100 ribu Muslim Afrika yang tinggal di Brasil.

Setelah pemberontakan komunitas Muslim Afro-Brasil, pada periode berikutnya, Islam datang ke negara tersebut karena adanya imigrasi Muslim dari Timur Tengah dan Asia Tenggara. Sekitar 11 juta Lebanon Suriah dan (kebanyakan Kristen Maronit) tinggal di seluruh Brasil. Konsentrasi Muslim terbesar ditemukan di wilayah Sao Paulo.

Sao Paulo memiliki Dewan Kota Councillor Muslim dengan nama Mohammad Murad, seorang pengacara.  Sejumlah masjid di daerah Sao Paulo merupakan masjid tertua di Brasil. Masjid di wilayah ini juga berukuran lebih besar.

Dan, yang paling populer dapat ditemukan di Av Do Estado. Sejak berdirinya, masjid telah menambahkan sebuah sekolah Alquran, perpustakaan, dapur, dan ruang pertemuan untuk berbagai fungsi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement