Kamis 19 May 2016 04:53 WIB

Kisah Warisan Diponegoro, Pangeran Ulama Pemimpin ‘Java Oorlog’

Foto: dok. Istimewa

Meski telah dua abad berlalu, kisah dan sosok bangsawan Kesultanan Yogyakarta pengobar ‘Perang Jawa’ (Java Oorlog), Pangeran Diponegoro, tetap lestari dalam benak ingatan publik. Bahkan, belakangan seiring dengan terbitnya buku ‘Kuasa Ramalan’ karya sejarawan asal Inggris Peter Carey, nama cucu laki-laki,Sultan Hamengku Buwono ke II ini berkibar-kibar kembali.

Agar tidak terus memendam rasa penasaran, maka di Museum Nasional kini publik bisa menyaksikan secara langsung beberapa peninggalan penting dari 'Sang Pangeran' saat memimpin perang yang membuat bangkrut negara Belanda dan membunuh 12.749 serdadunya (8.000 di antaranya orang berasal dari negeri Belanda).

Dan selama perang lima tahun itu dana sebesar  f.25.000.000 telah dihabiskan. Jadi bila di rata-rata selama setahun saat itu Belanda harus mengeluarkan dana hingga f.5000.000. Jumlah ini kala itu jelas sangatlah besar.

Keras dan  berdarahnya amuk perang Jawa ini kemudian membalikan anggapan pejoratif kepada orang Jawa bahwa mereka itu sekelompok orang yang terdiri dari para pemalas, pengecut, dan bodoh.

‘’Perang ini kemudian membuktian  bahwa prajurit Jawa ternyata sangat mengagumkan. Prajurit Jawa yang secara lahiriah tampak bodoh dan pemalas terbukti adalah prajurit yang pemberani, ulet, dan tangguh dalam berperang.,’’ kata sejarawan Saleh A Jamhari pada acara pembukaan ‘Pameran Warisan Diponegoro di Museum Nasional Indonesia, Jakarta (18/5).

Pihak pemerintah kolonial Belanda pun mengakui perang itu sangat menyulitkan mereka. Bahkan karena menyadari keunangan negara terancam sangat serius, maka kekosongan dana negara itu akan mereka cari gantinya dengan mengeluarkan kebijakan ‘Tanam Paksa’ tak lama kemudian setelah perlawanan Diponegoro  dapat mereka padamkan.

‘’Pada perang jangka panjang  yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dan Jendral de Kock ini, secara militer tidak ada pihak yang mengklaim sebagai pemenang. Ternyata Dipanegara tidak dapat ditaklukan dengan kekuatan senjata.  De Kock mengekploatasi dan mengeksplorasi nilai-nilai budaya Jawa untuk mengaalahkan Diponegoro sekaligus orang Jawa. Menang tanpa ngasoraken (menang tanpa merendahkan) itulah salah satu kunci yang digunakan oleh Jendral de Kock,’’ kata Jamhari.

Nah, sisa kobaran kecamuk perang itu, hampir dua ratus tahun kemudian masih bisa dilihat jejaknya di Museum Nasional hinggga 22 Mei mendatang. Artefak pelana kuda, tombak, lukisan hingga tongkat ziarah ‘Kanjeng Kiai Cakra’ milik Pangeran Diponegoro dipamerkan ke publik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement