Ahad 21 Feb 2016 21:32 WIB

Surat Terbuka untuk LGBT dari Muslimah Bercadar

Akun Facebook Sheren
Foto: Facebook
Akun Facebook Sheren

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tuntutan kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) untuk tidak didiskriminasi menjadi pertanyaan publik. Faktanya, tidak sedikit LGBT yang bisa menduduki posisi penting di negeri ini. Artis terkenal hingga menteri pun sempat diisi oleh kaum LGBT.

(Baca juga: Facebook Sempat Blookir Postingan yang Antikampanye LGBT)

Pertanyaan itu juga muncul oleh seorang Muslimah bercadar beridentitas Sheren Chamila Fahmi. Lewat status di facebook, dia mempertanyakan tuntutan LGBT dan dukungan para aktivis hak asasi manusia termasuk komisioner Komnas HAM kepada mereka. Di sisi lain, kata dia, keberadaan Muslimah bercadar justru lebih didiskriminasi di negeri mayoritas Islam ini. Berikut surat terbuka Sheren yang di-posting pada 18 Februari 2016.

Bismillah..

Kemarin pagi saya membaca di linimasa akun facebook saya yang sedang ramai membicarakan tayangan Indonesia Lawyer Club yang tayang pada tanggal 16 Februari kemarin di TVOne. Karena penasaran, akhirnya saya klik tautan rekaman tayangan tersebut di youtube. Durasi totalnya sekitar 2 jam 45 menit.

Saya simak benar-benar setiap perkataan narasumber. Lalu ketika narasumber dari komunitas LGBT membuka suara menuntut agar tidak mendapatkan diskriminasi alih-alih karena Hak Asasi Manusia, saya jadi penasaran, memang diskriminasi apasih yang mereka dapatkan?

Setelah mereka berbicara panjang lebar respon saya cuma satu, “Lho, jadi cuma gitu doang?” Kata mereka diskriminasi yang mereka dapat berupa bully, dilarang kerja di perusahaan tertentu, dilarang kuliah di kampus tertentu. Wah itu sih bagi saya hal sepele banget. Kalau hanya se sepele itu saya dan kawan-kawan saya lainnya yang bercadar juga gampang saja lapor KOMNAS HAM karena didiskriminasi.

Saya seorang mahasiswi dan bercadar dalam keseharian saya, baik ke kampus atau pergi ke mana pun. Mungkin saya adalah salah satu muslimah bercadar yang beruntung dibandingkan dengan teman-teman saya lainnya yang mengenakan cadar, keluarga saya mendukung saya dan kampus saya juga mengizinkan untuk bercadar. Banyak teman-teman saya yang bercadar mendapat pertentangan dari orang tuanya.

Tidak perlu sampai ke tahap mengenakan cadar, yang mengenakan jilbab syar’i (yang lebar) saja pun banyak yang mendapat pertentangan keras dari keluarganya. Ada yang sampai dikurung dan tidak boleh keluar-keluar. Ada yang kalau pulang ke rumah dan ketahuan punya pakaian syar’i, pakaiannya digunting-gunting lalu dibakar oleh keluarganya, itu baru keluarga inti, keluarga yang paling dekat, bagaimana sekeluarga besar? Itu baru diskriminasi dari pihak keluarga belum dari pihak masyarakat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement