Ahad 29 Nov 2015 20:08 WIB

Begini Cara Muslim Calgary Membuka Diri

Rep: c 38/ Red: Indah Wulandari
Acara One Nation Muslim Calgary
Foto: cbcnews
Acara One Nation Muslim Calgary

REPUBLIKA.CO.ID,ALBERTA -- Puluhan warga asal Calgary yang berdomisili di kota kecil Alberta, Kanada belajar mengenal budaya Muslim dalam sebuah acara bertajuk One Nation.

Di tengah persiapan menyambut ribuan pengungsi Suriah selama beberapa bulan mendatang dan maraknya gerakan anti Muslim, acara One Nation di pusat Country Hills Village Vivo ini diharap dapat mengatasi stereotipe dan meningkatkan hubungan antarumat beragama di Calgary.

Acara itu mendapat sambutan positif. Salah satu pengunjung, Brett Barlow mengaku ingin membekali anak-anaknya dengan pengetahuan seputar komunitas Muslim.

"Kami hanya ingin anak-anak mendapat jawaban atas pertanyaan mereka. Jadi, jika mereka mendengar hal-hal negatif di jalan atau apapun, mereka dapat membuat keputusan untuk diri mereka sendiri," kata Barlow, dilansir dari CBC, Ahad (29/11).

Warga Calgary yang lain, Joyce Hildebrand dan Jane Wong, juga menghadiri pertemuan itu. Wong, yang bermigrasi ke Kanada 27 tahun lalu, ingin belajar lebih banyak tentang Islam. Ia ingin membuat umat Islam tahu bahwa mereka diterima di kota itu.

"Kita harus mencoba menyambut mereka di negara kita karena kita juga telah menyambut para imigran sebelumnya. Mereka datang sebagai imigran baru, kita harus memahami dan membantu mereka," kata Wong.

Senada, Joyce Hildebrand mengaku ingin mengenal Islam lebih dekat. Ia benar-benar ingin tahu apa yang diimani Muslim dan bagaimana cara hidup mereka.   

Di mana-mana, makanan telah menjadi sarana mempererat persaudaraan. Begitu pula dalam pertemuan ini. Kesempatan untuk mencicipi kuliner khas Muslim, mengenakan jilbab, dan mencoba henna sebagai salah satu jenis temporary body art menarik perhatian pengunjung.

Acara itu didanai dengan dana hibah dari Calgary Foundation. Pihak penyelenggara, Shima Safwat, mengatakan, awalnya dia diminta teman-temannya untuk menunda acara itu dengan adanya serangan Paris. Namun, perempuan itu tetap optimistis. Ia merasa justru mendapat momentum penting untuk mengenalkan Islam akibat peristiwa itu.  

"Kami di sini ingin membangun, bukan menghancurkan. Kami di sini untuk mencintai, bukan membenci. Kami di sini untuk bekerja, bukan membunuh," tegas Safwat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement