Kamis 19 Nov 2015 16:41 WIB

Memaknai Pertanyaan

Alquran adalah kitab suci yang meliputi semua hal yang menyangkut kehidupan ini.
Foto: Republika/Tahta Aidilla/ca
Alquran adalah kitab suci yang meliputi semua hal yang menyangkut kehidupan ini.

Oleh: Hasan Basri Tanjung

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam kitab suci Alquran dan hadis Nabi SAW ditemukan banyak teks yang berisi pertanyaan. Tidak semua pertanyaan tersebut dijawab langsung, tetapi ada juga yang bersifat retoris, yakni tidak perlu jawaban karena akan terjawab dengan sendirinya. Kalimat pertanyaan dapat dikenali dari kata yang digunakan, seperti ara-aita (QS 107:1), wa maa adraaka (QS 97:2), serta hal  (QS 88:1).

Dalam hidup ini, ada empat esensi pertanyaan yang dalam filsafat ilmu disebut ontologi (apa, hakikat), epistemologi (mengapa dan bagaimana, cara), dan aksiologi (untuk apa, nilai).  Pertanyaan (as-suaal) berkaitan dengan empat unsur: siapa yang bertanya (as-saail), apa yang ditanyakan (al-mas`alah), siapa yang ditanya (al-mas`ul), dan di mana tempatnya (mas'al).

Setidaknya ada lima makna pertanyaan. Pertama, ingin tahu. Bertanya, karena ingin tahu sesuatu atau fenomena adalah awal mula ilmu pengetahuan. Orang yang bertanya bukan bodoh, melainkan orang yang tahu kalau dia tidak tahu (rajulun yadri annahu laa yadri). Ada ungkapan, assuaalu nishful jawabun (pertanyaan separuh dari jawaban). Alquran mendorong untuk bertanya jika tidak tahu (QS 16:43), tetapi jangan banyak bertanya yang justru buat susah sendiri (QS 5:101).

Kedua, perhatian. Orang tua atau guru mesti memberikan perhatian kepada anak atau murid dengan menanyakan sesuatu. Karena, pada dasarnya anak-anak ingin diperhatikan. Dalam Alquran banyak pertanyaan sebagai bentuk perhatian atau pendidikan. Seperti pertanyaan Nabi Yakub AS kepada anak-anaknya tentang apa yang akan disembah mereka (QS 2:131-133), Nabi Ibrahim AS kepada Nabi Ismail AS (QS 37:102).

Ketiga, menasihati. Ada pertanyaan yang bermakana nasihat (petuah) agar lebih menghunjam ke relung lubuk hati. Begitulah orang tua dan para guru-guru kita dahulu menasihati. Nabi SAW juga bertanya kepada sahabatnya untuk menasihati mereka sesuatu yang penting. Misalnya, Nabi SAW bertanya tentang siapakah orang yang bangkrut itu (HR Bukhari).

 

Keempat, pertanggungjawaban (al-mas'uliyah). Pertanyaan untuk meminta pertanggungjawaban pasti dialami setiap orang. Anak ditanya oleh orang tua, murid ditanya guru, mahasiswa ditanya dosen, begitu pun sebaliknya. Tidak suatu amal pun yang akan luput dari pertanyaan (QS 2:134, 4:43-44, 17:36). Pesan Nabi SAW, "Setiap orang akan diminta pertanggungjawaban kepemimpinannya" (HR Bukhari).

Pada hari kiamat kelak, manusia akan ditanya tentang perbuatannya di dunia. Jika lulus, akan dimasukkan ke dalam surga dan jika tidak bisa jawab, akan dijerumuskan ke neraka sesuai predikat penilaiannya.

Kelima, keangkuhan. Ada pula pertanyaan karena keangkuhan. Bertanya hanya untuk menunjukkan ke-aku-an dan meremehkan orang lain. Seperti Firaun kepada Nabi Musa AS (QS 26:23) dan Raja Namrudz kepada Nabi Ibrahim AS (QS 2:258, 21:62). Termasuk pula pertanyaan jebakan Kafir Quraisy kepada Nabi SAW tentang tiga hal, yakni ruh (QS 17:85), Dzulqarnaen (QS 18:83), dan Ashabul Kahfi (QS 18:9-22).

Kehidupan ini sejatinya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam keseharian. Untuk itu, diperlukan persiapan (bekal) yang cukup, yakni keyakinan (tauhid, iman), ilmu pengetahuan, kearifan (hikmah, intuisi), dan pengalaman. Perlu diingat, bagi orang yang menjadi tempat bertanya, kelak akan ditanya jawaban yang diberikannya. Orang yang bertugas bertanya pun, akan ditanya soal pertanyaannya. Allahu a'lam bish-shawab.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement