Kamis 10 Sep 2015 19:47 WIB

Menengok Rumah Kelahiran Rasulullah SAW

Penampakan Masjidil Haram di Makkah pada malam hari.
Foto: Reuters
Penampakan Masjidil Haram di Makkah pada malam hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengutip pendapatnya Caussin de Percevel dalam Essay sur l'Histoire des Arabes, Husein Haykal menyatakan, Nabi Muhammad dilahirkan di Kota Makkah pada bulan Agustus tahun 570 M. Kalangan Muslim di seluruh dunia, umumnya mengambil pandangan Ibnu Hasyim, Ibnu Ishaq, Ibnu Abbas, dan Caussin tersebut.

Seluruh umat Islam juga percaya bahwa Rasulullah SAW dilahirkan di rumah kakeknya yang bernama Abdul Muthalib. Rumah itu kini dipercaya telah dijadikan perpustakaan (Maktabah) Makkah al-Mukarramah. Hal yang sama juga diakui oleh Muhammad Husein Haykal.

Sejumlah pihak mengemukakan alasan dijadikannya rumah Abdul Muthalib tersebut sebagai perpustakaan. Intinya adalah untuk menghindari pemujaan oleh sebagian umat Islam terhadap tempat tersebut. Bahkan, kalangan Wahabi sebenarnya bermaksud menghancurkan tempat tersebut. Tujuannya agar tempat tersebut tidak dijadikan sebagai berhala-berhala baru atau tempat pemujaan.

Mereka tidak ingin ada situs-situs Islam yang menjadi sesembahan umat Islam. Demikian halnya dengan pemerintah Arab Saudi, mereka juga pernah merencanakan untuk menghancurkan bangunan tersebut dengan maksud untuk memperluas Masjid al-Haram. Namun, akhirnya dibatalkan.

Kini, rumah itu telah dijadikan sebagai perpustakaan. Disana-sini dilakukan renovasi untuk menjaga bangunan tersebut agar tetap terjaga dan terpelihara. Hanya saja, lokasi tersebut sengaja disembunyikan dari perhatian khalayak umum agar tidak ada pemujaan terhadap tempat tersebut. Didalamnya berisi berbagai buku-buku dan literatur sebagai bacaan umat Islam untuk menggali beragam ilmu pengetahuan.

Menurut Sirah an-Nabawiyah, tempat kelahiran Nabi Muhammad itu dulunya dikenal dengan lembah Abu Thalib. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, rumah itu ditempati oleh Aqil bin Abi Thalib, yang kemudian diikuti oleh anak keturunannya. Selanjutnya, rumah itu dibeli oleh Khizran.

Dalam perkembangannya, di lokasi tersebut sempat dibangun sebuah masjid oleh Al-Khaizuran, ibu dari Khalifah Harun al-Rasyid, khalifah kelima Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Namun, bangunan itu kemudian dihancurkan dan dijadikan perpustakaan oleh Syekh Abbas Ottoman (1370 H/1950 M).

Kini, kaum Muslimin dengan mudah mengenali tempat itu karena diatasnya tertulis Maktabah Makkah al-Mukarramah yang berarti perpustakaan Makkah al-Mukarramah.

Konon, bangunan yang berdiri sekarang ini tetap berdiri karena desakan Wali Kota Makkah, Syekh Abbas Qaththan, yang meminta agar Raja Saudi Arabia, King Abdul Aziz, mengizinkannya untuk membangun perpustakaan di tempat tersebut. Akhirnya terwujudlah bangunan itu.

Bangunan yang ada sekarang ini ukurannya sekitar 10x18 meter. Dibandingkan dengan bangunan lainnya, bangunan ini sangat sederhana sekali. Bahkan, oleh pemerintah Arab Saudi, bangunan itu terkadang dibiarkan terkunci diakibatkan adanya kekhawatiran akan terjadi pemujaan terhadap tempat itu.

Selain buku-buku, di bagian sebelah kiri bangunan itu digunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang yang tak terpakai. Sementara pada bagian kanan, langsung berhadapan dengan tempat pengambilan air Zamzam. Bagian belakangnya berbatasan dengan jalanan yang biasa dilalui baik oleh masyarakat maupun jamaah haji (dan umrah) yang ingin melaksanakan ibadah ke Masjid al-Haram.

Sungguh sangat memperihatinkan bila melihat kondisi bangunan itu. Dibandingkan dengan sejumlah bangunan yang ada di Makkah lainnya, tempat yang dipercaya sebagai rumah kelahiran nabi akhir zaman itu, sangat sederhana di negeri yang kaya dengan minyak itu.

Sumber: Pusat Data Republika/Syaruddin el-Fikri

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement