Selasa 25 Aug 2015 05:56 WIB

Humanisme Haji (1)

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sedang mendata paspor calon jamaah Haji di asrama haji, Bekasi, Jawa Barat, Ahad (23/8).  (Republika/Tahta Aidilla)
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sedang mendata paspor calon jamaah Haji di asrama haji, Bekasi, Jawa Barat, Ahad (23/8). (Republika/Tahta Aidilla)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Komaruddin Hidayat

Beberapa hari ke depan jutaan Muslim dari berbagai penjuru dunia akan berada dalam puncak kesibukan menunaikan ibadah haji sebagai perjalanan keagamaan (ziarah atau pilgrimage), serta  sebagai kewajiban agama bagi setiap muslim dan muslimat yang memiliki kemampuan (istita’ah) secara ekonomis, ilmu pengetahuan (terutama tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji), dan mampu secara fisik untuk merampungkan perjalanan ke bayt Allah  (Makkah).

Perjalanan ke Makkah guna menunaikan ibadah haji  juga disebut sebagai rihlah mubarakah (perjalanan penuh berkah), berbeda dari bepergian lain meskipun sama-sama ke luar negeri.  Dalam sejarah ibadah haji, sosok Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai Bapak Agama besar dunia, yang dari garis keturunannya lahir pembawa ajaran  Yahudi, Nasrani dan Islam, seakan hadir sebagai tokoh yang sangat dihormati, dicintai dan jadi sumber inspirasi. Dalam Alquran namanya banyak disebut, dan dalam bacaan shalat didoakan sejajar dengan Nabi Muhmmad SAW.

Hal ini menunjukkkan bahwa ajaran Islam sangat menghargai dan menjaga otentisitas ajaran Nabi Ibrahim, yang di dalamnya tercakup warisan ajaran Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS. Dalam konteks ini ibadah haji sangat jelas merupakan contoh nyata bahwa Alquran merupakan penerus, penjaga dan penyempurnaan ajaran para rasul sebelumnya. Lebih dari itu, adegan dan pesan ibadah haji sifatnya sangat humanis dan universal. Bahwa manusia pada dasarnya sama kedudukannya di hadapan Allah. Yang membuat sesorang mulia adalah karena takwanya, ditopang oleh ilmunya dan amal salehnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement