Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Serba Serbi Makna Ucapan Selamat Idul Fitri (1)

Kamis 16 Jul 2015 13:31 WIB

Rep: Hannan Putra/ Red: Indah Wulandari

Suasana Idul Fitri di Uni Emirat Arab.

Suasana Idul Fitri di Uni Emirat Arab.

Foto: Gulf News

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Saling mengucapkan tahni'ah (ucapan selamat) dan bermaaf-maafan adalah satu rangkaian dari budaya silaturahim masyarakat Indonesia ketika hari raya.

Terucap kata "taqabbalallahu minna wa minkum", "minal aidin wal faizin", "kullu 'am wa antum bikhair", serta tahni'ah lainnya yang diikuti kalimat mohon maaf lahir batin. Sebenarnya, bagaimana syariatnya ucapan-ucapan hari raya tersebut?

Beberapa kalangan ulama berpendapat, di hari raya sangat dianjurkan mengucapkan kalimat tahni'ah. Bahkan diantara mereka memandang wajib jika tidak melakukannya bisa memicu perpecahan diantara umat Islam.

Syaikh Asy-Syabibi mengatakan, "Bahkan, wajib mengucapkan ucapan selamat ketika hari raya, jika tidak mengucapkan kalimat ini bisa menyebabkan permusuhan dan terputusnya hubungan sesama," jelasnya seperti diterangkan dalam Al-Fawakih Ad-Dawani (3:244).

Namun, ada juga kalangan ulama yang hanya sebatas membolehkannya. Seperti pendapat Ibnu Taimiyah yang menilai ucapan tahni'ah di hari raya sama dengan ucapan-ucapan selamat di hari biasa. Imam Ahmad juga berpendapat serupa. Dirinya mengaku tak pernah memulai ucapan tahni'ah kepada orang lain. Namun bila ada orang yang mengucapkan tahni'ah kepadanya, maka ia pasti akan menjawabnya.

Imam Ahmad beralasan, menjawab ucapan tahni'ah bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. "Siapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh," jelas Imam Ahmad dalam Al Jauharun Naqi (3/320).

Mufti (anggota majelis fatwa) Arab Saudi, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin juga memiliki pendapat serupa. Menurutnya, ucapan tahni'ah tak dikhususkan para waktu tertentu. Demikian pula bentuk ucapan tahni'ah ini tidak ditentukan satu jenis saja. Artinya, ucapan tahni'ah di hari raya boleh dengan ucapan apapun selama mengandung nilai positif. Ucapan itu juga tak mesti di hari raya saja.

Dalam kumpulan fatwanya ia berpendapat, tidak ada syariat yang mengkhususkan ucapan tertentu saat itu. "Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung dosa," jelasnya.

Di masa Rasulullah SAW dan para sahabat Nabi, kalimat yang masyhur terucap dari mereka adalah "taqabbalallahu minna wa minka (jamak; minkum)". Artinya, "semoga Allah menerima amalku dan amalmu (jamak; kalian)". Hal ini sebagai bentuk pengharapan dari orang-orang yang telah menjalankan ibadah puasa sebulan lamanya agar amal mereka sama-sama diterima Allah SWT.

Riwayat yang dijadikan dalil dari kalimat ini adalah hadis dari Jubair bin Nufair. Menurut dia, jika para sahabat berjumpa dengan Rasulullah SAW di hari raya, satu sama lain mereka saling mengucapkan "taqabbalallahu minna wa minkum". Riwayat ini diklaim sebagai riwayat hasan (baik) oleh Al Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari karangan Ibnu Hajar Al Asqolani.

Riwayat lain dari Ibnu Aqil menceritakan, beberapa hadis mengenai ucapan tahni'ah di hari raya juga menganjurkan ucapan ini.

Ibnu Aqil berdalil dengan hadis dari Muhammad bin Ziyad. "Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan sahabat Nabi SAW yang lain. Jika mereka kembali dari shalat ied satu sama lain mengucapkan, ‘taqabbalallahu minna wa minka'," jelasnya. Imam Ahmad menguatkan riwayat ini dengan menyebutnya sebagai riwayat yang jayyid (bagus).

Sementara di Indonesia, Malaysia, dan negara-negara serumpun melayu terbiasa mengucapkan kalimat tahni'ah "minal a'idin wal faizin". Ucapan ini bermakna, "dari orang-orang yang kembali, dan orang-orang yang menang."

Banyak kalangan mempertanyakan kalimat ini karena dinilai masih terlalu majhul (universal) dari segi maknanya. Apakah yang dimaksud dengan "orang yang kembali" dalam kalimat ini? Tentu bisa saja dipelintir maknanya. Bisa saja dimaknai negatif dengan kembali kepada kemaksiatan setelah sebulan berpuasa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA