Jumat 17 Apr 2015 18:45 WIB

HTI Pertanyakan Kriteria Radikal yang Membahayakan

Rep: c97/ Red: Agung Sasongko
Mencegah Paham Radikal.  (ilustrasi)
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Mencegah Paham Radikal. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA --  Ketua Lajnah Intelektual, Hizbut Tahrir Yogyakarta, Nopriandi prihatin dengan penayangan berita yang tidak berimbang terhadap syariat. Sebab saat ini, syariat digadang-gadang sebagai sesuatu yang menakutkan. Tapi tidak ada pihak mana pun yang mau menjelaskan mengenai syariat secara detail.

"Seharusnya masyarakat itu diedukasi, syariat yang betul dalam Islam seperti apa. Bukan malah ditakut-takuti dengan keberadaan ISIS dan lain sebagainya," katanya melanjutkan. Ia yakin jika masyarakat sudah memahami syariat islam dengan baik, tidak ada lagi gerakan-gerakan kekerasan yang menjamur di mana-mana.

Kembali lagi pada istilah radikalisme, Nopriandi sendiri mempertanyakan apa kriteria radikalisme yang membahayakan. Sehingga banyak situs-situs islam yang diblokir, lalu menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. "Ya radikalisme yang dimaksud itu seperti apa? Ini harus ditanyakan pada BNPB," ujarnya. Ia menambahkan, jika radikalisme yang dimaksud adalah ISIS, jelas itu bukan islam.

Sebab menurut Nopriandi ISIS sama sekali tidak menjalankan syariat islam. Mereka hanya menggunakan atribut serupa dengan simbol-simbol islam. "Lagi pula islam tidak diuntungkan dengan keberadaan ISIS. Justru merugikan. Citra islam jadi jelek. Sekarang siapa yang diuntungkan dengan adanya ISIS?" tanya Nopriandi memancing reaksi peserta dirosah. Menurutnya, yang diuntungkan jelaslah musuh-musuh islam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement