Ahad 15 Mar 2015 05:23 WIB

Abu Nawas, Penyair atau Pelawak? (2-habis)

Rep: c 24/ Red: Indah Wulandari
Abu Nawas dan Khalifah Harun Ar-Rasyid (ilustrasi).
Foto: d-scene.blogspot.com
Abu Nawas dan Khalifah Harun Ar-Rasyid (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,Sesuai Alquran, Surat An-Nisa ayat 43, shalat dalam keadaan mabuk dilarang, maka dalam sajaknya Abu Nawas mengatakan, bahwa bila waktu shalat tiba, sengaja dia minum-minum sampai mabuk. Terhadap mereka yang sering menegurnya.

Maka, ia menantang dengan lantuan sajak: "Jangan kau tegur aku. Teguranmu malah merangsangku. Biarkan aku berobat dengan yang kusebut penyakit. Warna kuning emas tak kenal duka. Menyetuh batu, bila disentuh pun ceria, gembira."

Sajak tersebut cukup panjang dan dipandang paling indah yang pernah ditulis orang dalam melukiskan minuman keras, sampai-sampai ia berkata, "Jika anggur itu dicampur dengan cahaya, ia akan membaur, dan lahirlah cahaya dengan segala kecermelangannya."

Bukan saja dalam melukiskan minuman anggur, tapi juga dalam segala pelanggaran moral terlihat dalam sajak-sajaknya.     

Memang ada yang menyebutkan pribadinya simpatik, wajahnya tampan, suka pada humor dan disukai dalam pergaulan. Apa yang dilukiskan Dr. Syauqi Deif, kritikus sastra Arab terkemuka cukup menggambarkan latar belakang kehidupanya.

Ia berdarah Persia, cepat naik darah, tapi pengetahunya begitu luas dalam pelbagai kebudayaan yang hudup masa itu. Dari kebudayaan Arab sampai kebudayaan Islam, dari kebudayaan Hindu, Persia, Yunani, Yahudi dan Kristen. 

Di masa mudanya Abu Nawas pernah hanyut dalam perbuatan-perbuatan maksiat, seperti yang diterangkan oleh Dr. Syauqi Deif dalam Tarikh' l-Adab al-Arabi. Di atas semua itu dia percaya Tuhan adalah Maha Pengampun, begitulah yang digambarkan oleh Dr. Omar Farrukh dalam buku Abu Nuwas. Ia juga menyebutkan, kedudukan syair-syair Abu Nawas dalam sastra Arab tinggi sekali. Pilihan kata-kata dalam sajaknya orisinal dan kena. 

Puisi-Puisinya dianggap paling lengkap dan tepat sekali melukiskan suasana dan masyarakat masa itu di Baghdad dan sekitarnya. Sebagai penyair, Abu Nawas pernah hidup di istana Khalifah Harun ar-Rasyid dan penggantinya al-Amin.

Tetapi, tak jarang ia meringkuk dalam penjara karena sikapnya yang dinilai kuarang ajar dan sajak-sajanya yang nyentrik. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement