Rabu 17 Dec 2014 05:19 WIB

Persatuan

ustaz yusuf mansur
Foto: damanhurizuhri/republika
ustaz yusuf mansur

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Seputar umat, ada persatuan umat dan persatuan antarumat. Dua-duanya penting. Persatuan umat dalam urusan ukhuwah Islamiah dan hal-hal yang mengikutinya. Pengaruhnya ke urusan ekonomi, pendidikan, bahkan politik.

Persatuan antarumat, yakni antara umat Islam dan umat-umat lain yang beragam. Pengaruhnya juga besar ke urusan ekonomi langsung tidak langsung, ke urusan pendidikan, hingga kemudian juga ke urusan politik. Khususnya, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jadi, tema persatuan itu penting. Namun, persatuan itu tidak harus menjadi sama. Persis seperti yang dianut negeri ini, Bhineka Tunggal Ika. Benar-benar tidak harus sama identik. Kembar identik saja ada bedanya.

Dalam perbedaan, tetap terbuka peluang untuk bersatu. Idul Adha jatuh pada hari yang sama pada 2014. Sama-sama hari Ahad. Kemudian, ada cerita. Di Markas Brimob, masyarakat Muslim/Muslimah butuh lapangan.

Sementara, hari Ahad ada jadwal kebaktian bagi anggota, keluarga anggota, dan masyarakat Kristiani. Lapangan itu biasanya dijadikan lapangan parkir jemaat gereja.

Lalu, apa yang terjadi? Gereja memiliki jam ibadah yang berbeda dengan Muslimin yang terikat dengan waktu (mauquutaa). Yang terjadi kemudian adalah keelokan persatuan antarumat.

Gereja di markas Brimob menyepakati menunda ibadatnya. Digeser ke siang. Setelah Muslimin usai melaksanakan shalat Idul Adha yang memakai lapangan.

Sementara itu, anggota Brimob yang non-Muslim ikut membantu parkiran, keamanan, pengaturan, dan lain-lain. Sehingga, seluruh anggota Brimob yang Muslim/Muslimah dan masyarakat Muslim/Muslimah bisa fokus, konsentrasi, dan tenang melaksanakan ibadah.

Lihat. Selalu ada peluang untuk bersatu, berdampingan, bersama-sama, tanpa perlu berubah. Kristiani tidak perlu ikut shalat Idul Adha untuk menunjukkan bisa bersatu. Tak perlu duduk bersama-sama di lapangan atau di masjid mengikuti ibadahnya Muslimin. Begitu juga kaum Buddha, Hindu, dan lain-lain.

Dan, sebaliknya. Saat Natal dan ibadah-ibadahnya, kawan-kawan dari agama lain, dari Muslim ikut membantu menjaga keamanan, parkiran, dan lain-lain yang bisa dilakukan. Tanpa perlu ikut kebaktian.

Sesungguhnya, jika ini saja yang dilakukan, sudah sangat cukup. Belakangan, muncul polemik yang tak perlu. Yang satu mengemukakan alasan, yang lain mengemukakan alasan.

Sebagai ustaz yang awam, saya bingung. Sekian tahun tak pernah ada masalah dengan kawan-kawan umat lain. Bahkan, para pemimpin agamanya.

Meski saya tidak mengucapkan selamat Natal atau selamat hari Waisak. Masih banyak cara. Senyum ketika papasan, sering mengadakan pertemuan, tidak harus pas hari raya masing-masing.

Bertemu di rumah makan, berbisnis bareng, dan lain-lain. Dan, mereka juga nyaman-nyaman saja saya tak masuk gerejanya, wiharanya, klentengnya, dan sebaliknya. Juga, nyaman-nyaman saja tak menerima ucapan apa pun.

Banyak cara. Umat lain tidak akan cacat toleransinya sebab tidak mengucapkan Idul Fitri. Dan, sebaliknya. Tidak akan cacat toleransi kita juga meski kita tidak mengucapkan.

Jaga mereka, hormati mereka, sayangi mereka, tanpa perlu menjadi mereka dan tetap menjaga batas-batas toleransi yang aman bagi akidah kita. Itu saja.

Tentu ini pun pasti akan panjang lagi. Satu hal yang pasti, saya tetap akan, bahkan membela kawan-kawan lain, dari hati saya, walau saya tidak mengucapkan. Sebab, saya sayang mereka dan menghormati mereka. Dan, mereka pun kawan dan saudara saya, sebangsa, dan setanah air.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement