Ahad 07 Dec 2014 08:49 WIB

Tokoh Evangelis: Islam Agama Perang

Tokoh Evangelis, Franklin Graham
Foto: Christian Today
Tokoh Evangelis, Franklin Graham

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Sikap Franklin Graham, seorang anak pemuka Evangelis, Bill Graham ihwal tragedi 9/11 tidak berubah. Ia menyatakan Islam dan Muslim merupakan biang keladi dari tragedi itu.

Seperti dilansir Christian Today, Ahad, (6/12), Frank yang menggantikan ayahanya memimpin Evangelistic Association ini menyatakan Islam agama perang, dan ia mendesak umat Nasrani mengkonversi setiap Muslim agar menjadi penganut Kristen. “Pendapat saya tidak berubah. Islam tidak pernah dibajak kelompok radikal, karena apa yang kita lihat, itulah Islam,” kata dia,

“Saya pikir sangat penting untuk melakukan apa yang kita bisa guna berbagi kasih-Nya kepada umat Islam. Mereka tidak lagi memiliki harapan pada jihad. Saya ingin mereka tahu, mereka tidak harus mati untuk Tuhan. Tuhan telah mati untuk kita. Dia mengutus Anak-Nya unuk matik bagi kita,” kata dia.

“Islam tidak pernah berubah dalam 1.500 tahun. tetap sama, Islam adalah agama perang,” ucapnya.

Belum lama ini, ia merupakan pihak yang tidak senang dengan pelaksanaan shalat Jumat di Gereja Katedral Episcopa, Washington DC. “Sangat menyedihkan melihat gereja membuka pintu kepada penyembah satu Tuhan padahal dalam Alkitab disebutkan Tuhan itu mengutus Anak-Nya, Yesus ke bumi untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa,” kata Frank dalam akun Facebook pribadinya,

“Islam bukanlah agama berasal dari Tuhan yang sama dengan Kristen-Yahudi. Tuhan yang kita dalam Kristen adalah Allah yang memiliki Anak. Islam merupakan penghujat. Mengatakan Allah tidak memiliki putra. Karena itu, mereka tidak menyembah Allah yang kita sembah,” ucapnya.

Pernyataan itu jelas bereda dengan apa yang disampaikan Paus Fransiskus dalam kunjungan tiga hari ke Turki. Kepada Mufti Turi, Rahmi Yaran, Paus berjanji akan membina hubungan yang lebih baik dengan umat Islam. Paus pun menjangkau kalangan Evangelis karena persahabatanya dengan Uskup Tony Palmer.

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement