Senin 26 May 2014 08:11 WIB

Shalat Ajarkan Kedisiplinan

Rep: c64/ Red: Damanhuri Zuhri
Gerakan shalat (ilustrasi).
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Gerakan shalat (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO, JAKARTA -- Umat Islam dituntut mampu memaknai shalat dengan menjadikannya pemandu dalam perilaku sehari-hari.

Cendekiawan Muslim, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin mengatakan salah satu peristiwa besar dalam Islam adalah Isra Miraj.

Melalui peristiwa ini, umat Islam memperoleh kewajiban menunaikan shalat lima waktu. ‘’Shalat bukan kewajiban semata tetapi juga sarana mencegah perbuatan keji dan mungkar,’’ kata Didin, Ahad (25/5). Misalnya, khianat, korupsi, dan keburukan lainnya.

Kalau umat Islam masih melakukan hal-hal buruk, ujar dia, penyebabnya adalah belum mampunya mereka menghayati dan memaknai shalat. Padahal, mestinya shalat menuntun seorang Muslim kepada berbagai kondisi yang bagus.

Sebab, shalat mengajarkan kedisiplinan pada aturan seperti, menghargai waktu, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan lingkungan. ‘’Mari tegakkan shalat sebaik-baiknya dan menerapkannya dalam kehidupan.’’

Pakar Alquran, Dr Mukhlis Hanafi menjelaskan, banyak hikmah yang diperoleh dari peristiwa Isra Miraj. Di antaranya, peneguhan terhadap Islam sebagai ajaran yang dapat membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Menurut dia, kini umat Islam pun perlu meneguhkan kembali bahwa Islam merupakan ajaran yang moderat. ‘’Tunjukkan Islam bukanlah agama yang menyulitkan tetapi memudahkan dalam ibadah, akhlak, dan akidah.’’

Dengan demikian, jangan sampai peristiwa Isra Miraj terhenti pada peringatan yang seremonial. Sesuatu yang berjalan sebagai rutinitas. Mukhlis mengatakan, Isra Miraj juga bukan hanya peristiwa yang mensyariatkan kewajiban shalat.

Termasuk tawar-menawar Rasullullah SAW dengan Allah SWT terkait shalat 50 waktu menjadi lima waktu. Isra Miraj merupakan bukti Rasulullah SAW merupakan sosok yang tidak ingin ibadah memberatkan umatnya. Saat ini, tugas umat Islam memahami lebih dalam makna shalat.

Shalat tak dijalankan sebatas ibadah formal. Sebaiknya, kata Mukhlis, dipahami substansinya. Ini mencegah terjadinya kesenjangan nilai agama Islam dengan perilaku umat Islam sehari-hari.  Para dai bisa membantu mewujudkan hal ini melalui dakwahnya.

Bagi Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub, Isra Miraj menekankan pada Muslim agar meyakini perintah Allah SWT dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang terbaik. Semua perintah juga selalu berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Ia menambahkan, sebagian umat Islam, sudah memaknai shalat dengan baik. Shalat diperintahkan saat terjadi Isra Miraj. Sayangnya, ada umat Islam yang tak menjalankan dan memahami makna shalat. Penyebab utamanya, umat Islam enggan mempelajari agamanya sendiri.

Karena itu, ada yang rutin menggelar perayaan Isra Miraj tetapi tidak shalat. Padahal, salah satu hasil  penting dalam perjalanan Isra Miraj adalah shalat lima waktu. ’’Isra Miraj sebaiknya dipahami dengan lebih baik, misalnya dengan memperbaiki shalat kita,’’ kata Ali.

Pemahaman yang baik tentang hal itu dibutuhkan. Ali meminta dai terus belajar Islam. Dengan ilmu yang luas, mereka bisa membimbing masyarakat dengan lebih baik. Jadi, sebaiknya tak berhenti belajar hanya karena sudah disebut ahli agama.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement