Arsitektur Persia
Persia merupakan kebudayaan yang diketahui melakukan kontak dengan Islam untuk pertama kalinya.
Kekaisaran Persia berkuasa di wilayah dataran tinggi Iran pada sekitar abad ke-7 SM. Karena kedekatannya dengan kekaisaran Persia, Islam cenderung bukan saja meminjam budaya dari Persia, namun juga mengadopsinya.
Arsitektur Islam mengadopsi banyak sekali kebudayaan dari Persia. Bahkan, bisa dikatakan, arsitektur Islam merupakan evolusi dari arsitektur Persia, yang memang sejak kehadiran Islam, kejayaan Persia mulai pudar.
Banyak kota di wilayah kekuasaan Islam yang dibangun itu mencontoh kota-kota Persia kuno, seperti Kota Firouzabad di Iran Selatan.
Masjid bergaya Persia bisa dilihat dari ciri khasnya, yaitu pilar batu bata, taman yang luas, dan lengkungan yang disokong beberapa pilar. Di Asia Timur, gaya arsitektur Hindu juga turut memengaruhi, namun akhirnya tertekan oleh kebudayaan Persia yang ketika itu dalam masa jayanya.
Arsitektur Umayyah
Sejarah mencatat bahwa kemajuan umat Islam dalam bidang ilmu dan seni arsitektur Islam telah dimulai semenjak Dinasti Umayyah memegang tampuk kekuasaan dalam kekhalifahan Islam.
Perkembangan seni arsitektur Islam pada masa ini bermula ketika Muawiyah bin Abu Sufyan (602-680 M)--pendiri Dinasti Umayyah--mengumumkan sistem pemerintahannya sebagai kerajaan. Keputusan perubahan sistem pemerintahan ini ikut mengubah sendi kehidupan lain, dari cara berpakaian hingga tempat tinggal (istana).
Dinasti Umayyah mulai mengembangkan pola arsitektur khusus pada bangunan dan tempat penting yang ada pada masa itu. Pola arsitektur Arab yang sebelumnya mendominasi bangunan negara (istana, masjid, dan benteng) pada masa Khulafa ar-Rasyidun, di tangan Dinasti Umayyah bercampur dengan corak Romawi (Bizantium).
Pada masa ini, mulai diperkenalkan tempat pemandian umum (hammam). Untuk pembangunan tempat ini, pemerintah saat itu menyiapkan anggaran khusus. Para Khalifah Umayyah di Damaskus dikenal sangat royal dalam mengusahakan tempat seperti ini.
Selain bangunan hammam, penguasa Dinasti Umayyah juga membangun tempat peristirahatan bagi para pemburu di padang pasir yang dikenal dengan sebutan Karavanserai.




