Senin 24 Mar 2014 00:41 WIB

Filantropi Islam, Dari Khadijah Hingga Umar Bin Abdul Aziz (1)

Sedekah (ilustrasi)
Sedekah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syahruddin el-Fikri

Suatu hari, ketika terbangun dari tidurnya, Rasulullah SAW langsung menyebut nama Siti Khadijah, istrinya. Padahal, saat itu di sampingnya ada Siti Aisyah. Begitu mengetahui yang disebut Khadijah, Aisyah sebagai istri pun cemburu kepada Rasulullah.

Rasul pun kemudian menghiburnya dan menyatakan Khadijah merupakan contoh istri yang baik dan sangat dikaguminya. Rasulullah SAW kemudian menyebutkan beberapa keistimewaan Khadijah sebagai istrinya.

Pertama, Khadijah adalah orang pertama yang memeluk Islam. Khadijahlah yang menyelimutinya pada saat Rasul merasa khawatir seusai menerima wahyu pertama.

Kedua, dari Khadijah pula Rasulullah SAW mendapatkan keturunan. Di antaranya, Fatimah, Ummu Kultsum, Rukayyah, Zainab, Qasim, dan Abdullah.

Ketiga, Khadijah pula istri yang dengan tulus ikhlas menafkahkan dan mewakafkan jiwa raganya serta seluruh hartanya untuk kejayaan Islam.

Bahkan, menjelang wafatnya, Khadijah pernah mengatakan kepada Rasulullah SAW. “Aku telah mewakafkan seluruh harta dan jiwaku untuk kejayaan Islam. Namun, jika semua itu masih kurang, tulang-belulangku pun jika dibutuhkan, saya siap memberikannya, yang mungkin dengan (tulang-tulang) itu bermanfaat untuk Islam.

Atas hal inilah, Aisyah pun hilang rasa cemburunya kepada istri pertama Rasulullah SAW. Sebab, sosok Khadijah yang dengan jiwa, raga, serta seluruh hidupnya diwakafkan demi kejayaan agama Islam. Hingga kini, kita bisa merasakan manisnya Islam.

Abdurrahman bin Auf adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang istimewa. Keistimewaannya itu didapatkan karena kedermawanannya kepada Islam. Dari karena hal itu pula, Rasulullah SAW memberikan jaminan untuk Abdurrahman bin Auf dengan surga.

Saat ia berhijrah, seluruh harta bendanya ditinggalkan di Makkah. Ia berangkat hanya dengan membawa pakaian secukupnya tanpa harta benda.

Setibanya di Madinah, Rasul memerintahkan kaum Anshar (penolong) untuk membantu saudaranya kaum Muhajirin (orang yang berhijrah) dan menghubungkan mereka sebagai saudara.

Abdurrahman kemudian disaudarakan dengan Saad bin al-Rabi' al-Anshari. Saad yang mempunyai dua orang istri bermaksud menyerahkan salah satunya kepada Abdurrahman bin Auf untuk diperistri.

Namun, tawaran itu ditolaknya. Abdurrahman hanya meminta Saad menunjukkan lokasi pasar pada dirinya. Saad pun kemudian mengantarkannya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement