REPUBLIKA.CO.ID, YINGCHUAN -- Kesigapan Beijing dalam melihat potensi etnis Hui begitu mencengangkan. Lihat bagaimana Beijing mengubah isu domestik menjadi senjata kebijakan luar negerinya.
Soal Hui, Beijing memang tidak agresif. Apalagi ketika Dunia Islam tengah naik pamor, utamanya sejak meledaknya produksi minyak di Timur Tengah. Mereka lakukan pendekatan dengan basis keterikatan dunia Islam dengan etnis Hui yang Muslim.
Sejak itu dibangunlah forum yang mempromosikan hubungan China dan Muslim. Forum tersebut melahirkan China-Eurasia Expo, satu hal yang harusnya dibuka melalui Muslim Uighur. Beijing sengaja melakukan itu karena koneksi Uighur dengan dunia Islam punya efek berbeda.
Seperti dilansir Asian Times, Selasa (18/3), Beijing utak-atik model bisnis yang tepat untuk kepentingannya. Dibentuklah China-Arab States Expo. Narasi toleransi budaya dan kemakmuran dikedepankan Beijing. Islam menjadi titik jual yang mempertemukan pembeli dan penjual, komoditas utama dan menguntungkan.
Di masa lalu, hubungan ini sudah dibangun. Namun berhenti seiring berakhirnya kejayaan jalan sutra. Benturan kepentingan yang tidak sehat mengakhiri kemesraan dunia Islam dan China. Baru September 2013, China membuka nostalgia itu secara aktif. Ini bisa dilihat dari keaktifan Presiden china Xi Jinping ke Asia Tengah.
Usaha Beijing memang berbuah manis, jalan rel yang menghubungkan China dan Asia Tengah berdiri kokoh. Efeknya, jalur perdagangan hidup hingga Eropa. "Otonomi Ningxia menjadi gerbang pembuka, yang menghubungkan China, Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika dan Eropa," ungkap Yu Zengsheng, Ketua Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China.
Jalur sutra versi modern ini selanjutnya telah menarik 18 pemimpin negara untuk bertemu. Disusul 195 pejabat setingkat menteri, 93 diplomat dari 76 negara. Angka perdagangan pun melonjak dengan volume mencapai 42 miliar dolar AS. Sekitar 5.000 perusahaan asing dan China 'tumplek blek' di pasar yang gemuk itu.
Data terbaru Departemen Perdagangan China mencatat volume transaksi perdagangan Sino-Arab mencapai 194 miliar dolar AS pada 10 bulan pertama tahun 2013. Angka ini bakal naik mengingat jalur ini menjadi incaran negara lain di luar dunia Islam.




