Rabu 12 Mar 2014 14:39 WIB

Cerita Islam di Bulgaria: Korban Objektifikasi (16-habis)

Muslimah Bulgaria.
Foto: Slavorum.com
Muslimah Bulgaria.

Oleh: Teguh Setiawan

Silvi dan Lili adalah dua dari sedikit Muslim Turki yang menghadapi masalah itu.

Di sisi lain, generasi tua Muslim di Bulgaria yang mewariskan madzab Hanafi, dibuat kaget oleh kehadiran pendakwah dari Yordania dan negara-negara Timur Tengah yang memperkenalkan mazhab lain; Wahabi.

Munculah ketegangan antara Islam Balkans, mengacu pada Islam mazhab Hanafi seperti yang dianut kebanyakan masyarakat Bulgaria, dan Islam Arab (Arabski Islyam). Anehnya, ketegangan itu tidak muncul ke permukaan. Silvi, misalnya, hanya bisa memaki dalam hati soal perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Lili juga tidak bisa melakukan apa-apa.

Di komunitas Pomaks, kemunculan Islam Arab—yang berbenturan dengan Islam tradisional—disikapi dengan bijak. Ali Khairadin, seorang ulama Pomaks, melihat yang terjadi dalam sepuluh tahun pertama sejak kejatuhan komunis adalah ketegangan antara Muslim generasi tua dan muda.

Generasi tua masih berusaha mempertahankan Islam Balkan, alias mahzab Hanafi, generasi tua mendapat pengaruh luar biasa dari Arab.

Seiring perjalanan waktu, Islam Arab relatif berkembang, meski masih banyak tradisi lama yang tidak mereka tanggalkan. Pomaks menginspirasi etnis pemeluk Islam lain, dan menjadi penggerak kebangkitan Islam.

Beberapa mufti dan Muslim intelektual mengakui peran Pomaks dalam kebangkitan Islam di Bulgaria. Ini disebabkan oleh posisi Pomaks dalam peta keetnisan di Balkan yang sangat unik. Orang Bulgaria menyebut mereka Slav, tapi Pomaks lebih suka disebut Turki. Orang Yunani menyebut Pomaks sebagai keturunan Yunani.

Dibanding Muslim lain, Pomaks yang paling bisa menjaga keislaman selama era komunis. Mereka juga tidak ragu tampil dengan atribut keislaman, keras menuntut penggunaan nama-nama Arab, ketika angin perubahan berembus. Semangat mereka memengaruhi kota-kota yang dihuni komunitas Muslim di Rhodope, termasuk Madan.

Gadis-gadis Pomaks tak ragu menanggalkan busana Barat, dan mengenakan busana Muslim, dan berjalan-jalan di pertokoan. Mereka tak ragu berlari ke masjid saat azan tiba. Situasi ini perlahan-lahan mempengaruhi masyarakat Muslim lain, yang belum sepenuhnya ingin kembali mempraktikkan agama dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Kristen Ghodsee menemui Silvi kali kedua di tahun 2010, wanita itu telah berubah. Ia mengenakan busana Muslim dan menunaikan shalat di masjid tak jauh dari tempat kerjanya. Ia masih bekerja di agen pemasaran kosmetik terkemuka itu.

Silvi kini melihat fakta bahwa Islam hadir kembali di Bulgaria tidak untuk merampas hak hidup yang telah dinikmati setiap orang.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement