Oleh: Mohammad Akbar
Antara bangunan masjid dan bangunan sekolah tampak selaras.
Pagi mulai meninggalkan masanya. Sementara sinar mentari mulai terasa membakar kulit. Di sebuah pelataran terbuka beralas batu konblok, belasan anak-anak TK berlarian dengan wajahnya yang ceria.
Di tengah keceriaan anak-anak tadi, terdengar juga suara lelaki lewat pengeras suara. Lantunannya cukup jelas tengah membacakan ayat suci Alquran.
Inilah sebuah kehidupan dalam lingkup kecil yang ada di lingkungan Masjid Sa'adatuddarain. Masjid yang berada di pinggir jalan Pejaten Raya, Jakarta Selatan, ini setiap pagi hingga menjelang siang selalu saja diramaikan dengan keceriaan anak-anak TK maupun lantunan suara pengajian.
Masjid yang berdiri di hamparan tanah seluas 1.214 meter persegi ini tak hanya menampilkan kemegahan bangunan. ''Tapi, kami berusaha juga untuk membuat masjid ini bisa memberikan warna kepada lingkungan sekitar,'' kata H Rodjudin, Ketua Masjid dan Ketua Yayasan Sa'adatuddarain.
Hadir selaras
Aktivitas anak-anak di pagi hari yang ada di masjid ini tak lepas dari hadirnya ruangan kelas TK. Ruangannya dibuat menyatu dengan bangunan masjid. Selintas tak banyak yang berbeda di antara kedua bangunan ini. Namun, bangunan itu berada di sisi tenggara dari posisi masjid.
Hal yang membuatnya berbeda terdapat pada bagian atapnya. Untuk atap bangunan masjid, terdapat tiga kubah--satu kubah utama dan dua kubah kecil. Sedangkan, di atap bangunan ruang kelas tak ada tampilan kubah.
Antara bangunan masjid dan bangunan sekolah tampak selaras. Ini tecermin dari adanya dominasi warna hijau yang menghiasi hampir seluruh bagian eksterior bangunan.
Sisi eksterior dari masjid ini terlihat cukup mencolok lewat hadirnya ornamen cetakan yang terbuat dari bahan glassfiber reinforced cement (GRC). Melalui bahan komposit yang terdiri dari campuran semen dan pasir itulah yang kemudian memberi nilai estetika pada fasad masjid ini.
Permainan cetakan GRC itu terutama hadir di bagian lisplang yang ada di lantai satu dan dua. Melalui paduan lis berwarna putih dan warna hijau yang menutupi bagian tembok, lahirlah sebuah keanggunan.




