Oleh: Erdy Nasrul
Kepemimpinan Rasulullah SAW berbasis akhlak yang mulia.
Dalam bukunya yang berjudul The 100: The Ranking of The Most Influential in History, Michel H Hart memasukkan Muhammad SAW sebagai salah satu tokoh berpengaruh. Salah satunya karena gaya kepemimpinannya yang memukau. Rasul terkenal adil, visioner, dan bijaksana.
Pimpinan Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, KH Lukman Haris Dimyati mengatakan, keistimewaan ini tak terlepas dari genetikal keluarga.
Muhammad lahir dari keluarga yang berpengaruh, Bani Kinanah, Induk Suku Quraisy. Abdul Muthalib, kakek Nabi SAW, merupakan pemuka dan pemimpin suku Quraisy.
Tanda kepemimpinan itu, kata Lukman, dapat dilihat ketika Muhammad diajak pamannya Abu Thalib ke Suriah dan Basrah untuk berdagang. Seorang pendeta Nasrani yang bernama Buhayra dapat memperkirakan dan melihat tanda-tanda kanabian yang terdapat di atas bahu Muhammad.
Satu bukti bahwa Muhammad telah memiliki potensi menjadi pemimpin, yakni ketika Rasul diminta penduduk Makkah untuk meninggikan letak batu Ka'bah yang pada waktu itu sedang dipugar.
Beliau mengajak para anggota suku untuk mengangkatnya bersama-sama dengan cara mengajak setiap kabilah untuk memegang empat sudut tersebut.
Kesuksesan Nabi Muhammad SAW menjadi seorang pemimpin umat banyak didasarkan pada nilai-nilai akhlak. Nabi Muhammad merupakan personifikasi Alquran.
“Akhlaknya (Rasul) adalah Alquran,” jelas Lukman Haris mengutip hadits Rasulullah. Akhlak yang tertanam ditekankan dalam diri Nabi adalah kerendahan hati dan kebaikannnya.
Modal yang dimiliki Rasulullah tersebut merupakan prototipe dari kepemimpinan dan pendidikan Muslim selanjutnya. “Tdak berlebihan apabila dikatakan kepemimpinan dan pendidikan merupakan dasar-dasar kepemimpinan dan Pendidikan Islam,” jelas Lukman.
Dalam pandangan para sahabat, Muhammad merupakan pemimpin dan figur manusia kharismatik yang ideal. Bagi mereka, Nabi tidak sekadar pemimpin, guru, dan pendidik, lebih dari itu Nabi Muhammad SAW adalah standar moral tertinggi manusia.




