Rabu 19 Feb 2014 03:36 WIB

Umat Bersatu Bantu Korban Kelud

Rep: Amri Amrullah/Fuji Pratiwi/ Red: Damanhuri Zuhri
Masjid Al-Hurriyah kampus IPB, Bogor.
Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Masjid Al-Hurriyah kampus IPB, Bogor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Situasi darurat belum benar-benar reda. Usai banjir melanda Jakarta, banjir Jawa Tengah, dan erupsi Gunung Sinabung yang masih menanggung ribuan pengungsi, Gunung Kelud pun meletus.

Sebaran abu vulkanisnya meluas hingga Malang, Kediri, Surabaya, Magelang, dan Ciamis. Dari rilis yang disampaikan lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahad (16/2), mereka mencatat terdapat beberapa titik pengungsi di empat kabupaten terdekat dari lokasi bencana.

Terdapat 117 titik pengungsian di Kediri dengan jumlah 66.000 orang. 2.000 orang di sejumlah titik di Blitar. Sebanyak 24 titik penampungan bagi 6.000 orang di Malang dan 1.500 orang di Tulungagung.

Untuk membantu korban musibah, segenap elemen umat Islam pun bersatu membantu para korban. ACT pun mengajak semua pihak, baik publik, institusi, korporat, maupun pemerintah bersama bergerak dalam kolaborasi kemanusiaan.

Presiden ACT Ahyudin pun sudah menginstruksikan pengerahan relawan ACT, terutama di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan sekitarnya ke Kediri.

Saat Tim Disaster Emergency and Relief Management (DERM) -ACT sudah berada di Kediri, Blitar, dan Malang, tim membantu evakuasi korban. Tim memberi layanan kesehatan dan membuka dapur umum bagi pengungsi.

“Sinabung dan Kelud harus makin menguatkan kesadaran kita. Hentikan semua perilaku buruk di semua lini, kedepankan langkah terbaik sesuai mandat dan kapasitas, terutama para penyandang tugas-tugas rakyat,” ujar Ahyudin.

Menurut M Insan Nurrohman, Vice President Humanity Network Department (HND) ACT, terdapat 10 titik posko yang dibangun, yakni delapan titik di Kediri dan dua di Blitar, Jawa Timur. Sebelumnya, juga sudah ada posko di Pare, Jawa Timur.

Selain membagikan 10 ribu masker, ACT juga membagikan beras, perlengkapan dapur umum, dan genset. Para pengungsi membutuhkan susu balita kemasan siap minum, pembalut wanita, popok bayi, air mineral, masker, obat mata.

Para pengungsi juga butuh obat-obatan anak (seperti minyak kayu putih, obat batuk, obat demam), selimut, tikar, karpet, dan MCK. Bantuan jasa pelayanan kesehatan dan rehabilitasi trauma anak-anak juga sangat dinantikan.

Tak hanya dari lembaga kemanusiaan, ratusan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terdiri atas organisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al Hurriyyah IPB dan Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) IPB bersama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat IPB mengadakan penggalangan dana untuk korban bencana alam meletusnya Gunung Kelud.

Penggalangan dana dilakukan di wilayah kampus IPB, Jumat (14/2). Aksi penggalangan dana tersebut merupakan suatu bentuk kepedulian dan solidaritas dari segenap sivitas akademika IPB untuk korban bencana alam.

Aksi damai yang dipimpin Syarifah Nurul ‘Aini sebagai koordinator lapangan dari kastrat LDK Al Hurriyyah diikuti sekitar 170 peserta aksi. Aksi penggalangan dana menjadi rangkaian dari hari tutup aurat (HTA) internasional.

Aktivitas aksi meliputi orasi dari beberapa mahasiswa, bagi-bagi jilbab, pembatas buku, permen tausyiah, stiker, dan artikel mengenai urgensi menutup aurat secara gratis serta penggalangan dana untuk korban erupsi Gunung Kelud.

Ratusan peserta aksi hari tutup aurat dan penggalangan dana tersebut dibagi ke tiga posko di sekitar kampus IPB yang telah ditentukan. Setiap posko aksi tersebut dimeriahkan pula dengan jargon aksi HTA, yaitu We Care, We Share, and Let’s Cover the Aurat.

Ketua LDK Al Hurriyyah IPB yang juga Koordinator FSLDK IPB Amroyanu Habib mengatakan, LDK Al Hurriyyah IPB akan bekerja sama dengan FSLDK IPB untuk tetap melaksankan penggalangan dana.

Alhamdulillah, dana yang terkumpul dari aksi kurang lebih Rp 2.500.000,” ujarnya. Penggalangan dana untuk korban bencana alam masih akan dilaksanakan LDK Al Hurriyyah IPB bekerja sama dengan Forum Silaturahim Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement