Rabu 05 Feb 2014 16:31 WIB

Mengenal Astronomi Dalam Islam (2)

Rep: ferry kisihandi/ Red: Endah Hapsari
 Sejumlah warga dan penggiat astronomi amatir mengamati fenomena alam transit planet Venus di Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (6/6). (Aditya Pradana Putra/Republika)
Sejumlah warga dan penggiat astronomi amatir mengamati fenomena alam transit planet Venus di Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (6/6). (Aditya Pradana Putra/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, Asal-usul astronomi Islam, menurut Ensiklopdi Oxford, Dunia Islam Modern, bersifat eklektik atau dirumuskan dari berbagai sumber terbaik. Risalah astronomi berbahasa Arab paling awal adalah kumpulan tabel astronomis yang dikenal dengan zij. Ditulis pada paruh pertama abad kedelapan di Sind dan Qandahar.

Risalah ini ditulis berdasarkan sumber-sumber berbahasa Sansekerta, tetapi juga memuat materi berbahasa Pahlavi atau Persia kuno. Turunan-turunan dari karya Iran dan India inilah yang merupakan fase pertama astronomi Islam. Masuknya materi-materi dari Iran dan India lebih lanjut menandai fase kedua astronomi Islam.

Masa itu juga bersamaan dengan karya astronomi Yunani dari Ptolemeus yang berbahasa Pahlavi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Aktivitas ini berlangsung selama masa pemerintahan Khalifah al-Manshur dan Harun al-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah. Pada periode awal Abbasiyah, dikenal tiga sistem astronomi.

Ketiga sistem itu adalah sistem India (Sindhind), Iran (Zij al-Syah), dan Ptolemaik yang dalam banyak hal saling bertentangan. Para astronom berusaha keras untuk mempertemukan ketiganya, tetapi akhirnya menyimpulkan bahwa sistem Ptolemaik yang terbaik di antara sistem-sistem yang ada.

Pada abad kesepuluh hadir al-Battani yang menjadi saat menentukan, astronomi Islam menerapkan Ptolemaisasi. Dan, karya Ptolemeus berjudul Almagest diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Karya lainnya, Planetary Hypothesis, juga diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Dari sisi ini, sejarah astronomi Islam bercirikan sesuatu yang oleh Thomas Kuhn disebut sebagai ‘pemecahan teka-teki’ dalam paradigma Ptolemaik. Pada masa selanjutnya, Ibnu Haitsam membantah teori planet Ptolemeus. Dua abad kemudian ada Nashir al-Dun al-Thusi, kepala observatorium Maraghah, yang terus membuat penyempurnaan.

Dan, puncak kejayaan Maraghah dicapai melalui karya yang ditulis Qutb al-Din Syirazi yang membangun model geometris sangat akurat tentang Merkurius, planet paling tidak teratur yang diamati oleh mata telanjang. Sejarawan mencatat, perangkat matematis itu kembali muncul dua abad kemudian dalam karya Copernicus.

Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern , menyatakan meski tak mengambil sikap filosofis yang berani untuk melepaskan diri dari sistem Ptolemaik yang geosentris, astronomi Islam harus dihargai karena pencapaian-pencapaian yang mengesankan. Astronomi Islam menyumbang observatorium astronomi pada dunia ilmu.

Astronomi Islam pun melahirkan trigonometri. Dan di Maraghah, astronomi Islam mampu memicu pengembangan peralatan baru dan teknik matematis yang hebat serta selalu memperbaiki dan mengoreksi paramater-parameter astronomis. Para sejarawan sepakat, astronomi Islam merupakan yang terbaik pada zamannya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement