REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul
Pemenuhan fasilitas ibadah juga tak kalah penting sebagai penopang spiritualitas para korban.
Kebutuhan mendasar selain logistik dan obat-obatan, selama dan sesudah bencana terjadi tentunya adalah kebutuhan holistik, yakni fasilitas ibadah. Acap kali bencana juga berdampak fatal bagi masjid dan mushala.
Melalui Program Formula (Food, Religion, Medic, Livelihood Aid), kata Direktur Al-Azhar Peduli Umat (APU), APU tidak melupakan pengadaan mushala atau masjid darurat di pengungsian, bahkan pendirian mushala secara permanen.
Hal tersebut dilakukan apabila posko pengungsian tidak memiliki fasilitas tersebut Di samping itu, kata dia, program ini terdiri dari pemenuhan kebutuhan makan.
Program ini, jelasnya, adalah pendirian dapur umum dan beberapa bantuan makanan ringan kepada pengungsi. Kebutuhan medis juga tidak boleh diabaikan. Ketika pengungsi tinggal di posko-posko pengungsian, rawan terkena penyakit.
APU, kata dia, bahkan membuat program pascabencana. Jika rumah penduduk terkena banjir, maka APU akan menerjunkan tim pasukan bersih-bersih. Mereka nantinya akan membantu warga untuk mengeluarkan lumpur dari rumah.
Jika terkena erupsi merapi, maka rumah akan hancur. Untuk itu, APU akan mendirikan rumah semi permanen dengan setengah bangunan dari beton, setengahnya lagi bilik.
Dia mengatakan, APU memperhatikan pula kondisi perekonomian masyarakat yang terkena bencana. Nantinya akan ada pendampingan untuk memberdayakan potensi masyarakat setempat. Program kewirausahaan akan dijalankan. “Korban bencana akan dilibatkan,” papar dia.
Dia menuturkan, di Jakarta, Formula berupa pendirian dapur umum dan layanan medis. Di Sinabung, APU mendirikan posko bantuan dapur umum. Di Manado juga begitu. Di Subang, APU juga menerjunkan tim. Satu di antaranya, Shinta Ardjahri, yang wafat saat menjalankan tugas, belum lama ini.
Soal besaran anggaran bagi korban bencana alam di berbagai daerah, dia menyebutkan, APU menghimpun tak kurang dari Rp 500 juta, baik dari donatur perorangan ataupun perusahaan.
Direktur Operasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Ustaz Marwan Mujahidin menyatakan pihaknya menerjunkan tim logistik. Mereka membagikan makanan kepada korban bencana.
Ada juga tim medis di sejumlah tempat bencana. “Ini untuk membantu masyarakat,” paparnya. Terbaru, BMH menerjunkan tim penanggulangan bencana di Jombang yang terkena musibah tanah longsor.
Hingga saat ini, imbuh dia, tidak kurang dari Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar digelontorkan untuk penanggulangan bencana. Dana dihimpun dari perorangan ataupun perusahaan.
Selain itu, papar dia, pihaknya juga fokus pada pembangunan spiritualitas. Seperti ketika banjir melanda Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur. Para dai Hidayatullah memberikan motivasi hidup. Bencana bukan berarti akhir dari segalanya. Namun, ini adalah titik awal untuk bangkit.
Allah SWT memberikan cobaan kepada manusia untuk menguji keimanan. Umat Islam diminta untuk memohon pertolongan dengan sabar dan shalat. “Itu yang kita sampaikan,” paparnya.
Fokus medis
Ketua Presidium MER-C Dr Henry Hidayatullah menyatakan pihaknya lebih banyak menerjunkan tim medis. Mereka disebar di tempat-tempat bencana seperti Sinabung, Manado, dan Jakarta.
Hampir seratus orang tenaga medis dilibatkan. Mereka semua membawa obat-obatan untuk membantu korban bencana.
Pihaknya akan terus memantau perkembangan bencana di Indonesia. Jika terjadi lagi, maka timnya pasti akan bergerak.
Yang paling utama, menurutnya, adalah tim medis. Sebab, tim ini akan bergerak cepat untuk mengobati korban bencana yang sakit atau terluka.




