REPUBLIKA.CO.ID,
Rumah Amalia fokus pada pendampingan dan pemulihan.
Kasih sayang itu indah. Ya Allah, ajarkan kami saling memahami. Ajarkan kami saling memaafkan. Ajari kami saling peduli. Empat anak perempuan menyanyikan lirih senandung lagu tersebut di atas panggung. Disaksikan dengan khidmat para tamu yang hadir.
Ahad (21/7) sore itu, Rumah Amalia sedang menyelenggarakan acara silaturahim Berkah Ramadhan Bersama Amalia (BELIA) di Rumah Amalia, Jalan Subagyo IV Blok II No 24 Kompleks Peruri, Sudimara Timur, Ciledug, Tangerang.
Tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada 2006, Muhammad Agus Syafii dan istrinya mendapat titipan seorang anak dari ibu yang merupakan orang tua tunggal.
Sang ayah dari anak malang itu konon telah tiada. Ustaz Agus, begitu ia disapa, lalu mengurus anak ini selama dua tahun sebelum kemudian diambil lagi oleh ibunya.
Semenjak peristiwa itulah Ustaz Agus mulai membangun sebuah tempat bagi anak-anak yang butuh pemulihan memiliki 'rumah'. ''Rumah Amalia ini bukan panti asuhan, kita fokus ke pendampingan dan pemulihan,'' ujarnya menjelaskan.
Hingga sekarang, total anak yang ada di Rumah Amalia berjumlah 80 orang. Rata-rata berasal dari keluarga yang kurang mampu, anak korban perceraian, dan yatim.
Anak-anak tinggal bersama orang tuanya yang masih tersisa. Setiap hari, selepas sekolah sejak pukul lima sore hingga sembilan malam mereka lanjut belajar di Rumah Amalia. Ada 12 tenaga relawan yang siap mengajar.
Para yatim tersebut umumnya mendapat pelatihan psikomotorik, belajar menulis, dan membaca sebagai terapi. Kegiatan belajar lebih berorientasi pada muhasabah, kepemimpinan, outbound, hingga kemandirian.
Pusat kegiatan Rumah Amalia menempati dua unit rumah milik Ustaz Agus. Letak kedua rumah itu saling berhadapan. Keduanya dia wakafkan sebagai pusat kegiatan Rumah Amalia.
Ustaz Agus merasa anak-anak lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dibanding materi. Ia mencoba mengoreksi paradigma masyarakat yang selama ini berpikir jika telah memberi uang kepada anak yatim maka anak itu akan merasa bahagia.
Padahal, tidak demikian, ungkap dia. Anak-anak tetap butuh kasih, mereka kadang ingin bermain dengan orang tua, teman-temannya, berkumpul bersama. Ini bagian dari terapi anak-anak yang kadang tak diketahui masyarakat.
Acara BELIA ini merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka mempererat silaturahim. Anak-anak di sini juga bisa berkreasi dengan menari, bernyanyi, akting dalam drama. Intinya, mereka bisa menggali potensi masing-masing.
BELIA ini dilaksanakan saat Ramadhan, ada juga Kasih Sayang untuk Amalia (YAUMA) yang berlangsung pada Oktober, menyongsong tahun baru Hijriyah. Ada MULIA yang dilangsungkan pada Maret. Semua acara konsepnya silaturahim. Acara terselenggara secara swadaya, baik dari tenaga, dana, dan fasilitas.
Ustaz Agus berharap, dengan fokus pada permasalahan anak, dapat membuat mereka jauh lebih baik. Mereka bisa mandiri dan berjuang.
Agus bangga, setidaknya mampu memberikan beasiswa anak binaannya hingga kuliah walau cuma satu anak. Pemandangan itu menginspirasi segenap binaannya untuk memacu prestasi dan giat belajar.




