Selasa 27 Nov 2012 18:10 WIB

Zainab Al-Kubra, Wanita Mulia Teladan Kaum Hawa (2)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad
Ilustrasi
Foto: worldwidehealth.com
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Zainab menduga sang suami akan langsung mengikrarkan keislamannya. Ia justru melihat suaminya diam seribu bahasa.

Zainab tak putus asa. Ia mencoba segala cara untuk menyakinkan suaminya agar mengimani ajaran Islam yang dibawa sang ayah.

“Demi Allah, bukannya aku tidak percaya kepada ayahmu, hanya saja aku tidak ingin dikatakan telah menghina kaumku dan mengafirkan agama nenek moyangku, karena ingin mendapatkan keridhaan istriku,” kata Abu al-Ash.

Jawaban itu membuat Zainab terpukul. Kebahagiaan yang sempat dirasakan berubah menjadi goncangan dan kegelisahan. Ketika ayah dan saudara-saudaranya  hijrah ke Madinah, Zainab tetap tinggal di Makkah. Tatkala pecah Perang Badar, kaum musyrikin mengajak Abu al-Ash memerangi kaum Muslimin.

Dalam perang itu, Abu al-Ash tertangkap. Ia dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Nabi SAW meminta kepada para sahabat untuk memperlakukan menantunya itu dengan baik.  Zainab yang mengetahui suaminya menjadi tahanan segera mengutus seseorang untuk menebus suaminya dengan harta yang dimilikinya,

Rasulullah pun memandangi kalung pemberian sang istri tercinta tersebut. Beberapa saat Nabi SAW terdiam, lalu berkata dengan suara yang lembut, “Jika kalian berkenan  membebaskan tawanan yang ditebus Zainab dan mengembalikan harta tebusannya, silakan kalian lakukan.”

Para sahabat menjawab, “Baik, ya Rasulullah.”

Lalu Rasulullah menagih janji dari Abu al-Ash agar mau melepaskan Zainab, karena Islam telah memisahkan hubungan antara keduanya. Abu al-Ash lalu kembali ke Makkah disambut Zainab dengan riang gembira.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement